Archive

Archive for January, 2013

PANGGIL AKU KARTINI SAJA

January 3, 2013 Leave a comment

PANGGIL-AKU-KARTINI-SAJAPengarang : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Tebal Buku: 301 hlm

Pram dalam Panggil Aku Kartini Saja, menyunting surat-surat Kartini, kemudian membahas dan mengejawantahkan sesuai dengan paham yang dipercayainya secara kental. Semuanya ini hanya pengembangan dalam bahasa Pram ataupun Nursyahbani Katjasungkana yang disesuaikan dengan tujuan masing-masing, untuk menjadikan Kartini yang cerdas ini sebagai figur yang memang sangat pas untuk dibawa ke paham apapun, karena secara tidak terduga Kartini meramu semua paham (sosialis, liberalis, demokratis, religius, feminis, dsb) dalam suatu kemasan (baca: prosentase) yang berimbang dalam sejarah hidupnya melalui tulisan. Bahasan Nursyahbani yang bersifat nostalgia, misalnya Nursyahbani dari kecil dididik oleh orangtuanya untuk menjadikan buku Habis Gelap Terbitlah Terang ini menjadi buku keramat (sesuai dengan kalimat yang diambil dari sambutan Nursyahbani : ………menyerbu buku R.A. Kartini itu dengan mencuci tangan lebih dulu……..), malah membuat ”kebesaran” Kartini menjadi lebih ”enteng”.

Di atas adalah sisi-sisi kekurangan yang sejak dini perlu dicermati. Namun sekali lagi bahwa kepiawaian Pramoedya dalam mengolah kata dan menggiring pembaca untuk turut larut dalam kehidupan Kartini patut diacungi jempol. Bagaimana lincah dan keingintahuan Kartini dapat terasa dengan membaca buku ini. Bagaimana terbayangkan Kartini begitu tomboy (padahal saat itu masih memakai kain dan kebaya), sewaktu dengan antusias mengikuti anak buah kapal perang ”Sumatra” berkebangsaan Belanda yang sebelumnya tidak sengaja (padahal konon sengaja) tersasar masuk ke Kabupaten dan selanjutnya Kartini diijinkan ikut melihat kapal dan mengetahui isi kapal dan mengetahui cara-cara menyetirnya. Nekad dan ingin tahu. (Atau betapa gembiranya sewaktu dia kesampaian untuk menginjakkan kaki di Batavia bersama orang tua dan saudara-saudaranya). Betapa punya nyali si Kartini bau kencur ini di masa itu, di mana hampir semua eyang putri buyut kita waktu itu masih takut keluar rumah, duduk menunggu lamaran seseorang atau memasak di dapur dan menanak nasi dengan badan berbau asap kayu bakar.

Bagaimana cerdas dan all round-nya Kartini dalam menguasai seni maupun ilmu pengetahuan digambarkan Pramoedya dengan demikian jelas. Melukis (bersama dengan adiknya Kardinah), bermain piano (di rumah teman Belanda-nya), menyukai tembang dan lagu-lagu jawa, bermain gamelan (Kartini menyukai alat ginonjing), membatik, menggerakkan dan memberi semangat kepada rakyat Jepara untuk mengembangkan kerajinan rakyat (mempromosikan ukiran jepara), membuat puisi, menulis prosa, melahap bacaan apa saja (dari iklan, catatan, sampai buku-buku berbobot hasil karangan pengarang nasional maupun internasional), menguasai bahasa Belanda dengan fasih (Bahasa Belanda Kartini diakui sangat bagus oleh pengguna Bahasa Belanda), mempelajari bahasa Perancis, kemudian ingin juga belajar bahasa Inggris. Bahkan menurut saya, Kartini juga berkeinginan untuk mempelajari Bahasa Arab. Karena di surat tertanggal 6 Nopember 1899 yang ditujukan ke Estelle Zehandelaar tertulis: ……..Bagaimana mungkin aku bisa mencintai agamaku,kalau aku tidak mengenalnya? Tidak boleh mengetahuinya? Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun. Di sini tiada seorangpun mengenal bahasa Arab.

Kartini begitu cerdas bukan? Dia tidak ingin melakukan taklit semata dengan ajaran-ajaran para kyai waktu itu. Tidak hanya sekedar membaca huruf arab, namun sangat ingin mengartikannya. Coba apa yang terjadi bila Kartini memahami huruf arab dan arti Al Qur’an?

Namun dalam Panggil Aku Kartini Saja, surat Kartini tersebut di atas diulas oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai berikut :

Jadi Islam sampai kepada Kartini tinggal sebagai barang warisan yang karena tidak dikenalnya dengan baik disimpan saja dalam lemari.

Mungkin bahasan akan menjadi berbeda bila pengulas surat-surat Kartini adalah seorang Sunaryo Broto, Ezrinal Azis (penulis Cerita Hati), Mudjib Utomo (ketiganya adalah teman satu club di CB-33) atau Ahmad Tohari.

Kartini adalah sosok yang demikian brilian (mungkin IQ dan EQ jauh di atas standard rata-rata) dan selalu penuh cita-cita. Bahkan sosok langka di masa sekarang (dan ini juga diakui oleh Pram). Perpaduan antara kecerdasan, ke-intelek-an, kelembutan, kerendahhatian, ke-modern-an, kesantuan, seorang yang realistis dan berpikir logis, dan seorang yang mencintai keluarga dan menghormati orang tua. Jadi sangat mengherankan kalau kemudian Kartini menjadi icon bagi perempuan yang menginginkan kebebasan sebebas-bebasnya; karena dalam sosok Kartini yang terlukiskan adalah seseorang dengan jiwa seni tinggi, cerdas, lembut, santun, penuh semangat, care terhadap orang lain, intelek dan modern.

Dalam Panggil Aku Kartini Saja, Pram juga mengulas gaung Kartini di dunia Internasional. Bagaimana Ratu Belanda saat itu mengagumi hasil karya batik buatan tangan Kartini dan ukiran kayu Jepara hasil promosi dan dorongan dari Kartini (terlihat kepedulian Kartini dalam mendorong usaha kecil masyarakat) dalam pameran hasil karya bangsa Hindia di negeri Belanda (pada saat Kartini masih hidup). Bagaimana tokoh-tokoh (bukan hanya perempuan saja) yang tertarik untuk mengutip kalimat-kalimat Kartini dan menterjemahkan ke dalam berbagai bahasa setelah surat-surat Kartini dihimpun dan diterbitkan oleh Mr. Abendanon.

Di sinilah keunikan dalam membaca karya Pram, khususnya buku Panggil Aku Kartini Saja. Saya jamin pembaca juga akan diajak berdialog dengan diri sendiri oleh Pram, tidak hanya sekedar mengikuti apa kata dan cerita indah dari Pram. Dan banyak hal lain mengenai kehidupan kaum ningrat, kehidupan Kartini sendiri, maupun kehidupan rakyat jelata di jaman Kartini yang dapat di-reply ulang oleh surat-surat Kartini ke sahabat-sahabat penanya: Estelle Zeehandelaar, Nyonya H.G. de Booij-Boissevain, Nyonya Abendanon, E.C. Abendanon, Nyonya Van Kol, Dr. N. Adriani, dsb-nya. Bagaimana Kartini tidak menyukai beberapa adat Jawa yang membuat pergaulan di antara saudara menjadi kaku : Mengejutkan adat kami orang Jawa. Kalau seorang adik duduk di atas kursi dan aku hendak lalu, mestilah dia segera meluncurkan diri ke tanah dan di sana duduk menekuri tanah itu sampai aku tak nampak lagi olehnya…..(Bayangkan bila adat ini berlaku di masa sekarang).

Banyak hal-hal menarik terungkap dengan kepiawaian Pramoedya dalam bertutur dan menghayati sejarah. Untuk menyusun buku ini Pramoedya juga melakukan riset dan mengunjungi tempat-tempat di mana Kartini pernah tinggal, dan juga mengunjungi sanak famili Kartini untuk mendapatkan informasi yang akurat, sehingga semua kalimat yang telah tersusun dalam benaknya dapat ”dibenarkan” dengan membaca surat Kartini maupun cerita-cerita tentang Kartini dari sanak saudaranya.

Advertisements

CALON ARANG

January 3, 2013 Leave a comment

CERITA-CALON-ARANGJudul Buku : Cerita Calon Arang
Penulis       : Pramoedya Ananta Noer
Penerbit      : Lentera Dipantara
Tebal          : 94
ISBN           : 979-97312-10-5

Cerita Calon Arang oleh Pram tak banyak diutak-atik. Ia tetap berwujud sebuah dongeng hitam-putih plus bumbu “hal-hal ajaib” . Gaya Pram bercerita seperti seorang ayah mendongengi anak-anaknya. Bahasa yang dipakainya mengingatkan kita pada buku-buku dongeng kanak-kanak: Adalah sebuah negara. Daha namanya. Daha yang dahulu itu kini bernama Kediri. Negara itu berpenduduk banyak. Dan rata-rata penduduk makmur. Panen pak tani selalu baik, karena tanaman jarang benar diganggu oleh hama (hlm.9).

Siapapun yang membaca deretan kalimat di atas akan dapat dengan mudah memahaminya, seorang anak kecil sekalipun. Bahasanya begitu lugas memaparkan apa yang ingin disampaikan. Nyaris tanpa metafor-metafor berat dan gaya-gaya bahasa lain yang serbatinggi berbunga-bunga. Semuanya terasa sederhana, polos, apa adanya. Pram seolah memang sengaja menulis buku ini untuk konsumsi kanak-kanak, kendati ada juga deskripsi adegan kekerasan yang kurang cocok untuk dibaca anak-anak.

Pram benar-benar menulis dongeng, karenanya ia tetap membiarkan “ketidaklogisan” berlangsung di sepanjang cerita, karena “ketidaklogisan” itu sah-sah saja – malah tak jarang memberi daya pikat tersendiri – selama terdapat penjelasan yang bisa diterima logika dongeng. Umpamanya, Empu Baradah yang sanggup menghidupkan kembali orang yang sudah mati atau memantrai selembar daun hingga bisa dipakai sebagai sampan menyebrangi lautan.

Kalau dilihat dari sudut pandang cerita realis, kemampuan menghidupkan orang mati serta menyihir daun menjadi sampan terasa sangat tidak logis. Akan tetapi, dalam dongeng hal seperti itu dapat dimungkinkan sebab dilakukan oleh seseorang berilmu tinggi seperti Empu Baradah. Dongeng memiliki logikanya sendiri.

Sebagaimana disebut di atas, Cerita Calon Arang versi Pram ini sangat hitam putih: tokoh jahat berhadap-hadapan dengan tokoh baik (pahlawan) yang selalu berakhir pada kekalahan si tokoh jahat. Pesan moralnya sangat jelas : jadilah orang baik, jangan jadi orang jahat. Sebab orang jahat pada akhirnya akan binasa. Suatu nasihat yang hampir senantiasa menyertai cerita-cerita (dongeng) untuk anak-anak.

Dalam buku ini, tokoh jahatnya adalah seorang perempuan bernama Calon Arang. Ia gemar sekali melakukan kejahatan dengan ilmu hitam yang dikuasainya. Ia sakti mandraguna, pemuja Dewi Durga, dewi perusak alam semesta. Suatu kali, ia mengajak sang dewi bersekutu dengannya untuk menyebarkan bencana ke seantero negeri Daha hanya karena putri kesayangannya, Ratna Manggali, tak juga ada yang meminang. Dengan bantuan Dewi Durga, Calon Arang menebar teluh, mengakibatkan ratusan bahkan ribuan orang tak berdosa kehilangan nyawa.

Kala itu, Negeri Daha diperintah oleh seorang raja bijak bestari. Erlangga namanya. Sang Paduka berduka-cita melihat malapetaka yang menimpa rakyatnya. Ia pun lalu memerintahkan para prajurit istana untuk menyerbu kediaman Calon Arang dan menangkapnya. Kalau perlu bunuh di tempat.

Namun, ilmu perang para prajurit terbaik itu tak mampu menandingi kesaktian Calon Arang. Mereka pulang kembali ke ibukota kerajaan dengan menangggung kekalahan membuat raja dan seluruh rakyat bertambah gundah. Raja lalu memohon petunjuk para dewata cara terbaik mengatasi Calon Arang agar negerinya kembali aman tentram.

Permohonan raja dan seluruh rakyat Daha dikabulkan para dewa. Melalui petunjuk dewata, raja lantas meminta bantuan Empu Baradah, satu-satunya pendeta yang menurut para dewa akan mampu menghadapi Calon Arang.

Singkat cerita, Empu Baradah pun segera menyusun strategi demi mengalahkan musuhnya. Dengan sedikit kecerdikan dan tipu muslihat, akhirnya terbongkarlah rahasia kesaktian Calon Arang, yakni kitabnya. Maka, dengan demikian sang empu tak menemui kesulitan sedikitpun ketika harus bertempur dengan perempuan sakti itu. Calon Arang dan para pengikutnya ditumpas habis. Bencana pun berakhir. Empu Baradah bahkan menghidupkan kembali orang-orang yang mati terkena teluh Calon Arang.

Raja dan seluruh rakyat Daha bersuka-cita menyambut kemenangan itu. Kini mereka bisa hidup tenang tanpa ada gangguan lagi. Di masa tuanya, Raja Erlangga memilih hidup sebagai pendeta. Sebelum meninggalkan takhtanya, Raja Erlangga membagi dua kerajaannya kepada para putranya menjadi Kediri dan Jenggala.

Sejatinya, Cerita Calon Arang adalah perkawinan antara sejarah dan mitos (dongeng); fakta dan fiksi. Sebagian orang percaya, bahwa Calon Arang adalah putri seorang raja Bali yang diasingkan, sementara banyak juga yang beranggapan ia hanya tokoh rekaan saja. Adapun Raja Erlangga (Airlangga) dan kerajaan Daha fakta adanya. Walaupun mengikutsertakan Airlangga, namun agaknya Pram tidak sedang membuat sebuah fiksi sejarah melalui buku ini.

ARUS BALIK

January 3, 2013 Leave a comment

ARUS-BALIKNovel ini berlatar abad ke-16 dan Pram kembali menokohkan orang biasa di dalamnya; Wiranggaleng, pemuda desa, juara gulat kadipaten Tuban.

Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng dan Idayu menetap di Tuban, padahal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.

Tuban, kota pelabuhan yang telah seribu tahun dikunjungi kapal-kapal dari barat, timur, dan utara. Para pedagang membawa rempah-rempah dari Maluku dan cendana dari Nusa Tenggara Barat, lalu mengambil beras, gula, garam, dan minyak tumbuhan dari bumi Tuban. Dulu Tuban taklukan Majapahit, tapi setelah kerajaan itu runtuh akibat intrik dan perang saudara, Tuban merdeka, bahkan meluaskan wilayah sampai Jepara. Konon, Wilwatikta, ikut bersekongkol menjatuhkan Majapahit. Dia keturunan Ranggalawe, gubernur Tuban yang memberontak pada Majapahit.

Pada 1511 terjadi perubahan arus modal dan perniagaan di Nusantara. Malaka, bandar besar di Asia, jatuh ke tangan Portugis. Malaka adalah wilayah strategis di Semenanjung yang pernah dikuasai dua kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit. Kejatuhan Malaka bukan sekadar hilangnya sebuah wilayah, tapi menandai perubahan arus perdagangan dunia di Asia. Kapal-kapal niaga dari Arab, Eropa, dan India tak berani singgah di bandar itu lagi, menghindari Portugis. Ini berarti ancaman juga buat Tuban. Kapal-kapal dagang asing tak berlabuh lagi di pelabuhan Tuban. Lalu-lintas dagang mereka telah diputus Portugis di Malaka.

Dua tahun setelah Malaka jatuh, Adipati Unus, putra Raden Fatah dari Demak, mencoba merebut bandar tersebut dengan mempersatukan Nusantara. Wilwatikta menolak membantu, karena Adipati Unus sebelumnya telah merampas Jepara dan menjadikan kota pelabuhan itu wilayah taklukan Demak. Adipati Tuban sengaja memperlambat kiriman pasukannya. Ketika gabungan pasukan Tuban-Banten datang, dua puluh ribu tentara laut Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara yang dipimpin Adipati Unus telah kalah dihajar meriam Portugis di perairan Semenanjung itu.

Wiranggaleng, kepala gugusan Tuban, tak habis pikir. Penyebab kekalahan itu masih samar baginya. Namun, lama-kelamaan dia mengerti. Konflik-konflik internal di Nusantara telah memecah-belah kekuatan mereka. Aceh disebutkan ingin memiliki Malaka untuk diri-sendiri. Tuban mengingkari janji lantaran kasus Jepara, terlambat lima hari sampai di Semenanjung. Kekalahan Adipati Unus justru menerbitkan rasa kagum Wiranggaleng, pemuda desa yang lugu, buta politik, yang semata-mata orang suruhan penguasa Tuban.

Adipati Unus satu-satunya orang yang berani berusaha mempersatukan kekuatan melawan Portugis, dan berani melaksanakan penyerangan. Kekalahan yang terjadi bukan kekalahan perang, tetapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungan itu semestinya tidak kalah. (hlm. 206)

Arus Balik mengungkap seputar intrik dan permainan politik yang berujung pada runtuhnya kejayaan Tuban. Letupan-letupan konflik agama lama, Hindu-Budha, dan agama baru, Islam juga muncul. Wiranggaleng tidak ingin perbedaan agama membuat orang merestui penindasan terhadap yang lain. Adipati Tuban sudah memeluk Islam, sedang Galeng beragama Hindu.

Suatu hari, seorang mata-mata Portugis, Sayid Habibullah Almasawa, datang ke Tuban dan berkat kelicikannya dia diangkat menjadi syahbandar. Adipati Tuban nekad memelihara musuh yang tengah dicari-cari utusan Sultan Mahmud Syah, penguasa lama Malaka, diincar orang-orang Demak-Jepara dan pedagang-pedagang Cina Lao Sam—daerah otonomi khusus orang-orang Cina. Baginya, kehadiran Almasawa yang fasih bahasa Portugis dan Spanyol itu bisa membuka kontak dagangnya dengan Portugis, bisa menguntungkan Tuban serta menghidupkan kembali pelabuhan yang sepi. Baginya, Tuban harus makmur. Persetan wilayah atau kota lain. Watak Adipati Tuban yang lokalis ini berakibat fatal di kemudian hari.

Di Jepara tengah terjadi pergantian kepemimpinan. Adipati Unus mangkat. Dia digantikan Trenggono, adik kandungnya. Trenggono punya ambisi berbeda dengan Unus. Dia menjadikan strategi merebut Malaka sebagai kamuflase tujuan sejatinya untuk merebut Sunda Kelapa, Cimanuk, Cirebon, bahkan Tuban, kota-kota pelabuhan di Jawa. Trenggono mencetuskan perang saudara. Ratu Aisah, sang ibunda, menentang putranya dan tak digubris Trenggono. Adipati Tuban yang terkecoh oleh muslihat Trenggono kembali mengirim Wiranggaleng dan pasukannya ke Semenanjung. Tetapi, kali ini Demak-Jeparalah yang berkhianat. Tentara Demak justru menyerang Tuban ketika pasukan Tuban tengah terombang-ambing di laut menuju Malaka. Trenggono memimpin langsung pasukan Demak menyerbu kadipaten Tuban.

Di lain pihak, armada Portugis bergerak ke Maluku dan Nusa Tenggara Barat, membinasakan armada dagang Tuban dan Blambangan yang selama ini memonopoli Maluku. Portugis ingin menguasai sumber rempah-rempah. Sementara itu, kapal Portugis juga mulai masuk ke perairan Jawa, mendirikan benteng di Pamanukan dan mengintai Tuban. Arus sudah berbalik. Masa kejayaan kerajaan Nusantara telah lewat, ekspansi-ekspansi melewati samudra telah berhenti. Sebagai gantinya, armada laut asing muncul dari ujung selatan dan memasuki wilayah Nusantara, merebut kota-kota pelabuhan dan niaga. Inilah babak awal kapitalisme perdagangan di Nusantara.

Wiranggaleng, senapati Tuban, sebenarnya punya peluang untuk menahan arus balik itu. Dia memperoleh restu Ratu Aisah dari Jepara, ibunda Adipati Unus. Dia berhubungan baik dengan penguasa Lao Sam. Dia sudah mengusir Demak dari Tuban. Tetapi, Galeng justru memilih tinggal di desa dan menjadi petani. Dia tak mau jadi raja. Di hadapan pasukannya yang berharap, Galeng membuat keputusan.

Telah aku baktikan masa mudaku dan tenagaku dan kesetiaanku. Biar pun hanya secauk pasir untuk ikut membendung arus balik dari utara. Arus balik itu ternyata tak dapat dibendung. Kekuatan untuk itu ada pada Trenggono, dan Sultan Demak itu tidak bisa diyakinkan untuk menggunakannya. Arus tetap datang dari utara, yang selatan tetap tertindih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku kekuatan untuk menyedarkan raja dan sultan sehingga jadi gelombang raksasa, bukan sekedar mendesak arus balik dari utara, bukan saja untuk jaman kemerosotan ini, juga kelangsungannya untuk selama-lamanya. Gajah Mada, anak desa itu telah berhasil. Ia gerakkan tangannya dan semua jadilah yang dipegangnya, semua bangun yang disentuhnya. Pergilah dia, pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan kebesaran dan arus besar yang mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesuatu hasil apalagi kebesaran kutinggalkan kecuali kesakitan dan kekecewaan dalam diri dan terhadap diri-sendiri.” (hlm. 749)

Tetapi, tahukah Galeng bahwa Gajah Mada pun telah dibinasakan kekuasaan? Patih Majapahit ini dibunuh Hayam Wuruk gara-gara peristiwa Bubat. Banjir darah di Bubat terjadi setelah Raja Padjadjaran menolak mempersembahkan putrinya (Dyah Pitaloka) sebagai upeti, melainkan sebagai wanita yang hendak dipersunting Hayam Wuruk. Pasukan Gajah Mada membunuh sang raja yang tak mau tunduk berserta pengikutnya. Asal-usul Patih Gajah Mada sengaja disembunyikan penulis babad agar keluarganya tak ikut dihabisi penguasa Majapahit itu.

Arus Balik sering disebut-sebut sebagai karya terbesar Pram. Namun, novel ini bukan tanpa cacad. Dalam karya yang dijuluki “literatur maritim Nusantara” tadi, Pram justru bertolak dari kota pelabuhan Tuban, yang tak sebanding dengan kebesaran Majapahit apalagi Sriwijaya. Novel ini seolah mengatakan seluruh perubahan iklim modal dan politik Nusantara bertumpu pada sebuah kota kadipaten.

AROK DEDES

January 3, 2013 Leave a comment

Arok Dedes02Judul: Arok Dedes
ISBN / EAN: 9789793820149 / 9789793820149
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Penerbitan: 17 April 2009
Halaman: 576

SINOPSIS

Arok Dedes menceritakan sejarah perlawanan dan pemberontakan Ken Arok terhadap pemerintahan akuwu Tumampel, Tunggul Ametung.

Dalam buku ini, Pram secara jelas mengungkap kondisi sosial politik pada masa itu. Novel ini mencoba memberikan suatu perspektif baru terhadap sejarah dengan menggambarkan Ken Arok bukan hanya seorang berandalan pemberontak ,seperti yang banyak dikatakan buku pelajaran sejarah, tetapi disini diceritakan bahwa Ken Arok adalah seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang menindas.

Novel ini juga menggambarkan kondisi pemberontakan yang terjadi di dalam suatu negara atau kerajaan yang sarat dengan intrik politik.

Kisah Arok Dedes adalah kudeta pertama dalam sejarah kita. Kudeta unik a la Jawa, penuh rekayasa kelicikan, lempar batu sembunyi tangan, yang punya rencana menjadi orang terhormat, yang tak terlibat malah menjadi korban yang ditumpas habis-habisan.

Mengikuti kisah perebutan kekuasaan dengan kelihaian secanggih seperti itu, tanpa diundang asosiasi pembaca langsung beralih dari peristiwa di abad 13 ke abad 20 di tahun 65-an.

Bagaimana pada 1965 bisa terjadi “peralihan kekuasaan” dari Soekarno ke Soeharto? Bagaimana orang yang mengkup kekuasaan justru berhasil melempar tuduhan mengkup itu kepada pihak lain, sampai-sampai yang difitnah menjadi korban kesengsaraan yang berkepanjangan — bagaimana orang yang memberi informasi tentang bakal terjadinya kup, malah ditangkap dan dipendam lebih 30 tahun dalam penjara? Banyak kemiripan kudeta Arok sekitar 1220-an dan kudeta Harto sekitar 1965-an?

Duapuluh lima tahun yang lalu sebagai tahanan di Buru Pramoedya merawikan kisah tampilnya Ken Arok sebagai Akuwu Tumapel menggantikan kekuasaan Tunggul Ametung. Pramoedya Ananta Toer tidak sedang menulis essay politik aktual atau sedang mengkaji apa yang terjadi di tahun 1965, tetapi lewat kekuatan kata dan wahana sastra, dia menghadapkan cermin sejarah kepada generasi di era Orde Baru untuk melihat diri sendiri, untuk mengenal situasi di mana kita berada, untuk belajar dan menyimpulkan sendiri apa yang sedang kita alami di masa kini, termasuk merefleksi peristiwa 1965, rekayasa seorang jendral naik ke puncak kekuasaan, kemudian dengan gengnya memakmurkan selapis tipis elit Indonesia dan menyengsarakan rakyat dalam skala besar-besaran.

CUKILAN BUKU

TUMAPEL

Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan. Tubuhnya dibopong diturunkan dari kuda, dibawah masuk ke ruangan besar ini juga. Ia digeletakan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak diperkenankan meninggalkan bilik besar ini. Gede Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuat kotoran dan makanan. Matahari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu. Begitu matahari muncul masuk ke dalam seorang tua mengenakan tanda-tanda brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. Tetapi Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya disebuah bangku yang diberi bertilam permadani. Ia tutup mukunya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya. Orang dengan tanda-tanda brahmana itu telah menikahkannya. Hanya Gede Mirah bertindak sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung meninggalkan bilik bersama brahmana itu. Sejak itu ia tidak diperkenankan keluar dari bilik besar ini. Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. Sekarang ini Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir. Ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon pada Mahadewa agar melepaskannya dari kungkungan ini, mengembalikannya pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari selesainya wadad pengantin. Ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar nanti akan membawanya ke peraduan. Dan ayahnya tak juga datang untuk membenarkan perkawinan ini. Ia sendiri juga tidak membenarkan. “Perawan terayu diseluruh negeri,” bisik Gede Mirah. “Tanpa riasan sahaya pun tiada orang lain bisa menandingi.” Bedak telah menutupi sebagian dari kepucatannya. Sekali lagi air mata merusakkan rias itu. “Jangan menangis. Berterimakasihlah kepada para dewa. Tak ada seorang wanita yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung. Tak pernah Yang Mulia melakukan wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana sebagai ayahmu. Mantra-mantrannya sama mengikat dengan yang diucapkan oleh ayahmu.” Dedes masih juga belum membuka mulut dalam empat puluh hari ini. Ia selalu terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk menjadi brahmani, ia tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan itu oleh Sri Kretajaya untuk menjamin arus upeti ke Kediri. Semua brahmana termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan tercantik.

Mari, Dara,” dan ditariknya perawan itu berdiri dari duduknya. Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan kepucatannya. Dada telanjangnya mulai ditutup dengan sutra terawang tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, sebagian menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri kemudian dilibatkan tiga kali pada leher untuk kemudian jatuh pada perutnya. Selembar sutra berselang-seling benang emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping kiri ke atas pundak “Mari, Dara,” katanya lagi dan dipimpinnya Dedes sang cantik, sang ayu, sang segala pujian itu hendak meninggalkan bilik. Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan nampak berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang lalu Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung bermunculan seperti dari perut bumi. Tumapel berubah menjadi kota dan beratus desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok.

Tunggul Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas, hanya takluk pada Kediri. Dua orang pengawal, mendengar gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari potongan rantung bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes. Gede Mirah menyerahkannya pada rombongan wanita pengiring yang langsung menyerahkannya pada Yang Suci Belakangka, Pandita Negeri Tumapel. Semua menunduk mengikatkan pandang pada lantai. Juga Dedes. Hanya Sang Suci mengangkat muka, memimpin semua meninggalkan keputrian menuju ke pendopo pekuwuan. Iringan itu merupakan permainan warna dalam siraman sinar matahari sore.

Di depan sendiri Dedes dalam intan baiduri gemerlapan. Rambutnya dimahkotai dengan pita emas dengan matahari intan bertaburan pada kening. Kulit tubuhnya yang dimangir kuning muncul dari balik terawang sutra Mesir dengan sepasang buahdada seperti hendak bertanding dengan matahari. Yang Suci Belakangka mengenakan jubah hitam berkalung lempengan emas dengan hiasan dudul bergambar lambang serba Wysnu: cakra dan sangkakala. Kalung jabatan itu diberati dengan patung garuda. Juga dari emas. Semua berkilat-kilat memuntahkan pantulan api dari dalamnya. Di belakang barisan dara pengiring, berselendang aneka warna dengan buahdada penuh menggagahi pemandangan, dengan gelang dan binggal perak dan suasa mengangakan mulut naga. Iringan itu berjalan selangkah dan selangkah seperti takut bumi jadi rengkah terinjak. Tetap tinggal Yang Suci yang tiada menunduk dengan jubah gemersik pada setiap langkah. Delapan puluh langkah keluar dari keputrian iringan sampai di pendopo istana sang Akuwu. Empat orang prajurit berbarengan meniup sangkakala. Dan keluarlah Tunggul Ametung dengan pakaian kebesaran, menandingi pakaian Sri Kretajaya. Ia diapit oleh barisan narapraja, kemudian diiringkan oleh pasukan pengawal, yang mendadak keluar dari samping-menyamping istana, menaikkan tombak dan menghentakkan pangkalnya ke lantai. Sangkakala berhenti berseru-seru. Akuwu Tumapel turun dari pendopo menyambut pengantinnya, menggandengnya. Dua orang prajurut datang membawa dua ekor kuda dengan hiasan serba perak. Mereka mengangkat sembah kemudian mempersembahkan kuda mereka.

Tunggul Ametung menolong Dedes naik ke atas kuda yang seekor. Ia sendiri menaikkan yang lain. Dan iringan itu mengikuti dari belakang berjalan kaki, meninggalkan pekuwuan, langsung menuju ke alun-alun. Dua orang prajurit itu menuntun kuda pengantin. Juga turun dari kuda Tunggul Ametung sendiri menolong pengantinnya., membimbingnya mendaki tangga panggung. Janur kuning dan daun beringin menyambut kedatangan mereka. Dan rakyat yang menonton di sekitar alun-alun itu hening tanpa sorak-sorai. Para narapraja ikut naik ke panggung. Para pengiring berbaris bersila di bawah. Yang Suci Belakangka berdiri di hadapan pengantin, memberi hormat menyingkir ke samping menghadap rakyat. Ia angkat tongkat sucinya. Keadaan semakin hening. Mendadak menderum genderang dari belakang para penonton.. dengan tangan kanan Yang Suci mengangkat giring-giring emas dan menggerincingkannya tiga kali. Berpuluh pendita dari seluruh negri Tumampel, yang didatangkan dari kota dan desa dan diturunkan dari gunung-gunung Arjuna, Welirang, Kawi dan Hanung, berbaris seorang-seorang dengan jubah aneka warna dan destar sesuai dengan warna jubahnya. Di tangan mereka terangkat umbul-umbul kecil. Semua berjumlah empat puluh, empat puluh pandita empat puluh hari pengantin telah mematuhi wadad perkawinan agung tatacara para raja dari jauh di masa silam yang sudah tak dapat diingat lagi kapan. Di belakangnya lagi sebarisan dara belasan tahun menari irama gamelan. Pemimpinnya membawa bendera sutra merah, besar, pertanda darah perawan pengantin diharapkan. Pakaian mereka kain batik, tanpa selembarpun baju, dengan perhiasan dan mahkota bunga-bungaan. Waktu sebarisan kepala desa menyusul, memikul patung dewa yang sedang duduk di atas punggung garuda seluruhnya terbuat dari anyaman rontal, penonton bersorak-sorai, kemudian mengangkat sembah.

Hanya para brahmana dan brahmani, yang berada di antara penonton dan menyembunyikan kepercayaannya selama ini, dalam kediamannya masih dapat mengenal, patung itu sama sekali bukan seorang dewa, hanya seorang raja yang diperdewakan: Erlangga. Sesampai di depan panggung semua barisan berjalan miring menjauh memasuki tenga-tengah alun-alun. Hanya barisan patung di atas garuda itu tetap berhenti di depan panggung.

Tunggul Ametung berdiri, menggandeng pengantinnya, dan memimpinnya berlutut kemudian mengangkat sembah. Para narapraja di belakang pengantin agung juga mengangkat sembah. Yang Suci melihat tangan Dedes gemetar dalam sembahnya. Dan ia lihat air matanya titik. Kemudian tangan itu jatuh lunglai di atas pangkuan. Belakangka membantunya mengangkat tangan itu dan memperbaiki sembahnya. Berbisik menindas : “Dewa Sang Akuwu sekarang juga dewamu.” Tetapi tak dapat lebih lama Yang Suci menunjang sembah Dedes. Ia harus memimpin upacara selesai wadad itu. Sembah pengantin itu jatuh lagi di pangkuan. Belakangka berdiri, mengangkat tongkat sucinya dan giring-giringnya pun gemerincing. Angin pancaroba meniup keras, berpusing di tengah lapangan, membawa debu, membubung tinggi kemudian membuyar, melarut dalam udara sore. Yang Suci mengucapkan mantra restu, ditutup dengan suara seratus sangkakala.

Barisan wanita dari semua biara negeri Tumapel yang diakui muncul dalam pakaian warna-warni, mengambil alih pemikulan patung rontal, membawanya ke tengah alun-alun, menenggelamkannya dalam luapan api. Kemudian barisan pandita dengan abu patung dalam bokor emas mempersembahkannya pada Tunggul Ametung yang telah duduk kembali. Upacara penutupan brahmacarya telah selesai. Tunggul Ametung berdiri berseru kepada rakyatnya: “Demi Hyang Wisynu, pada hari penutupan brahmacarya ini, kami umumkan pada semua yang mendengar, pengantin kami ini Dedes, kami angkat jadi Peramesywari, untuk menurunkan anak yang kelak akan menggantikan kami.” Belakangka mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Terdengar sorak bersambut-sambutan.

Dengan didahului oleh abu patung dalam bokor di atas talam ditangan seorang pandita, Akuwu Tumapel dan pengantinnya menurunin panggung, berjalan kaki menuju ke istananya. Para narapraja tinggal di pendopo, duduk bersimpuh. Akuwu dan pengantinnya dalam iringan Yang Suci, dan seorang pandita membawa bokor abu Erlangga menuju ke Bilik Agung yang terletak di balik pendopo. Mereka dapatkan Gede Mirah menyambut di dalam. Diterimanya bokor emas itu dari tangan pandita dan menaruhnya di atas meja, kemudian menyembahnya. Dedes berjalan tanpa kemauan. Ia dengar sekali lagi Yang Suci berbisik menindas: “Basuhlah kaki Yang Mulia.” Dara itu masih juga tak dapat membendung air matanya dan menangis tersedan-sedan. Ia memprotes entah pada siapa: seorang brahmani yang harus mencuci kaki seorang sudra yang disatriakan oleh Kediri. “Yang Mulia Akuwu Tumapel,” Yang Suci mulai memimpin upacara, “kaki Yang Mulia.”

Tunggul Ametung dalam berdiri itu mengangkat kaki kanan pada Dedes yang telah dipaksa berlutut oleh Yang Suci. Air bunga dalam jamban itu bergerak-gerak kecil. “Bukankah Yang Mulia Akuwu sudah cukup memuliakan kau, Dedes? Paramesywari Tumapel? Telah mengangkat naik kau dalam perkawinan kebesaran ini?” tindas Yang Suci. Melihat Dedes tak juga mencuci kaki Tunggul Ametung, ia sandarkan tongkat sucinya pada meja, menangkap tangan lembut Dedes dan memaksanya membasuh kaki kanan suaminya, kemudian yang kiri. Dedes tak juga bangkit dari berlutut. Kembali Yang Suci juga yang memimpinnya berdiri, membisikkan pada ubun-ubunnya, memberkahinya dengan restu kebahagiaan serta seorang putra calon pemangku Tumapel hendaknya segera dilahirkannya. Upacara selesai dan malampun jatuh.

PESTA UNTUK rakyat, juga pesta di pekuwuan telah selesai. Tumapel mulai sunyi dalam tengah malam. Dan dingin pancaroba membikin orang lari di bawah selimut masing-masing. Dalam Bilik Agung Dedes berlutut menghadapi peraduan. Air matanya telah kering. Tapi dalam hatinya masih juga mengucur tiada henti. Gede Mirah dan Rimang tak mampu menghiburnya. Ia tahu pikirannya tidak kacau. Hatinya masih dapat menilai, mantra yang diucapkan oleh Belakangka dalam Sansakerta mengandung banyak kesalahan ucap dan bahasa. Lima tahun yang lalupun ia berumur sebelas waktu itu sudah mampu menyalahkan, apalagi sekarang. Ia tak bisa terima perkawinan semacam ini: seorang brahmani harus membasuh kaki seorang sudra yang disatriakan. Dan ayahnya, seorang brahmana terpelajar, merasa tidak perlu untuk menengok. Empat pulih hari ia telah membisu. Hanya itu yang ia bisa berbuat untuk melawan Tunggul Ametung.

Menghadapi peraduan begini, dengan Gede Mirah dan Rimang terus juga mencoba menghiburnya, ia teringat pada suatu cerita pokok tentang perkawinan antara wanita kasta brahmana dengan seorang pria kasta satria.. ayahnya, Mpu Purwa, yang menceritakan padanya dalam suatu pelajaran tentang tata tertib triwangsa. Pada suatu kali ditahun 1107 Saka Sri Ratu Srengga Jayasaba dari Kediri mangkat. Pertentangan terjadi dalam istana siapa yang harus dinobatkan. Raden Dandang Gendis melarikan diri dari istana ke Gunung Wilis. Di sana ia jatuh cinta pada gadis anak brahmana Resi Brahmaraja bernama Amisani.

Waktu itu Dedes menerimanya hanya sebagai pelajaran sejarah, sekarang ini ia baru mengerti, semua itu peringatan pada dirinya untuk tidak menerima lamaran dan suami seorang dari kasta satria. Ia sesali dirinya sendiri mengapa ia baru sekarang ini mengerti makna cerita itu. Dan bagaimana cerita itu selanjutnya. Resi Brahmaraja tidak menyetujui percintaan itu. Amisani ini, kata sang Resi, hanya gadis desa tidak layak mendampingi Tuan jadi Paramesywari, duduk di ssinggasana dikemudian hari. Tapi cinta telah membutakan Dandang Gendis : ia menjawab; Jika aku disuruh memilih antara Amisani dan mahkota sekarang juga aku dapat katakan, aku pilih Dewi Amisani. Resi Brahmaraja, yang mengenal betul kehidupan istana, meminta pada Dandang Gendis untuk memikirkannya kembali, jangan sampai hati tertutup oleh nafsu. Anakku, Tuan, aku tahu, dia lebih berbahagia hidup di Gunung Wilis ini daripada di istana.

Dandang Gendis tak dapat dibelokkan kemauannya. Perkawinan dilangsungkan. Tiga tahun ia tinggal di padepokan Resi Brahmaraja. Pada suatu hari datang dari Kediri ke Gunung Wilis Mpu Tanakung dan adiknya sendiri, Mahisa Walungan. Mereka datang menjemputnya untuk dinobatkan jadi raja Kediri. Ini terjadi pada tahun 1110 Saka. Ia tidak lain daripada Sri Kretajaya yang memerintah Kediri sekarang. Di istana Amisani, si anak desa, tidak disukai oleh para putri istana. Orang pun memasang racun untuk membunuhnya, Amisani akbhirnya mati termakan racun itu… Dedes terbangun dari renungannya. Ia kini sedang mengulangi kisah hidup Amisani. . Ia mengerti di Tumapel tersedia banyak racun untuk melenyapkannya dari muka bumi. Aku tidak harus mati karena racun, ia yakinkan drinya sendiri, yang lain bisa, Dedes tidak! Ia harus hidup.

KUTARAJA, IBUKOTA Tumapel, tenggelam dalam dingin pancaroba. Di rumah-rumah penjagaan, para kemit masih sibuk memperbincangkan upacara selesai brahmacarya. Seluruh negeri baru tahu dari upacara itu, bahwa Paramesywari Tunggul Ametung adalah anak brahmana Mpu Parwa dari desa Panawijil. Semua orang tahu brahmana itu tidak mendapatkan pengakuan dari Yang Suci Belakangka, maka juga tidak dibenarkan menerima pelajar. Satu-satunya murid resmi adalah anak tunggalnya: Dedes. Barang siapa pada malam itu belum tidur, dia bertanya-tanya, apa sebabnya perkawinan itu dirahasiakan.

Dan mengapa Tunggul Ametung hanya mengambil gadis desa. Bukankah di Kutaraja sendiri banyak gadis cantik yang patut di Paramesywarikan? Peristiwa itu mendesak berita hebat dari hampir dua bulan lalu yang menyebabkan penjagaan istana Tumapel dan seluruh Kutaraja diperketat. Berita itu adalah tentang Borang, seorang pemuda berperawakan kukuh, berani atau nekad, tanpa kegentaran. Ia muncul di tanah lapangan Bantar, setengah hari perjalanan di sebelah barat Kutaraja. Dan orang dengan diam-diam mengagungkan dan membenarkan Borang, bahkan menganggapnya sebagai titisan Hyang Wisynu sendiri. Bantar adalah sebuah dukuh di kaki Gunung Arjuna, di pinggir jalan negeri yang menghubungkan Tumapel dengan Kediri. Pembangun dukuh adalah Ki Bantar.

Beberapa tahun yang lalu ladang Bantar tidak tanah lapang seperti sekarang, karena Ki Bantar setiap musim kemarau menanaminya dengan bawang merah. Seorang narapraja dalam perjalanan ke Kediri telah mengusirnya bersama semua keluarganya. Semua harta milik dan hartanya dirampas oleh desa. Di lapangan bantar ini dua bulan yang lalu Borang muncul dalam terang cahaya bulan. Anak buahnya telah mengerahkan seluruh penduduk untuk berkumpul dan melingkarinya. “Akulah Borang,” ia memperkenalkan diri. “Mengapa kalian diam saja waktu Ki Bantar dan keluarganya diusir dari sini? Katakan padaku sekarang: siapa yang bersuka hati karena kepergiannya?” penduduk yang menjadi waspada tidak menjawab. Siapa Borang, orang tak tahu. Selama ini banyak perlawanan terhadap Tunggul Ametung, dan hampir semua telah dipatahkan. Boleh jadi Borang punggawa Tumapel, boleh jadi juga sebaliknya. “Mengapa kalian diam saja tidak menjawab? Sekarang tidak, waktu Ki Bantar diusir juga tidak. Apakah kalian kurang menyembah dan berkorban pada Hyang Wisynu, maka kurang keberanian dalam hati kalian?” “Bukankah kami tidak bersalah memuja dan mengkorbaninya, ya, Borang?” seseorang bertanya. “Pemujaan dan korban kalian tiada arti bila kalian tak dapatkan keberanian itu dari Hyang Wisynu.”

“Barangkali kau seorang pemuja Hyang Syiwa, Borang. Kalau demikian janganlah disinggung dengan ucapanmu dengan apa yang kami cintai, sembah dan korbani.” “Apakah kekurangan Hyang Wisynu maka Ki Bantar sampai terusir dari desa dan kalian diam saja? Apakah dia kurang memuja dan mengkorbani? “Tidak, Borang, jangan salahkan juga kami. Tumapel terus-menerus menyalahkan kami. Kalau kau pun demikian apalah gunanya kau menggiring kami ke tengah tanah lapang ini?” “Kalian memuja Hyang Wisynu hanya karena Akuwu Tumapel juga melakukannya?” angin pancaroba yang dingin itu meniup tanpa mengindahkan puncak pepohonan yang membangkang. Dan yang berselimut kain biru dalam temaram cahaya bulan itu tiada menjawab.

“Kekuasaan Akuwu Tumapel yang diberkahi oleh Hyang Wisynu telah membikin kalian mengidap kemiskinan tidak terkira. Dengan segala yang diambil dari kalian Akuwu Tumapel mendapat biaya untuk bercumbu dengan perawan-perawan kalian sampai lupa pada Hyang Wisynu. Dengan apa yang diambil dari kalian itu juga Sri Baginda Kretajaya di Kediri sana tak lebih baik perbuatannya. Sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan kemuliaan Hyang Wisynu,” ia diam untuk memberi kesempatan pada penduduk Bantar untuk mengerti, ia bukan seorang narapraja, juga bukan penyokong Akuwu Tumapel, bahkan menempatkan diri sebagai lawannya. “nah, jawab sekarang. Adakah kalian setuju Ki Bantar dan keluarganya diusir?” Seorang bertubuh tinggi besar, juga berselimut gelap, menghampiri Borang, menetakkan tanya: “Siapa kau sesungguhnya?” “Jangan perhatikan siapa aku, dengarkan kata-kataku. Jangan kau kira Borang gentar karena yang datang padaku berperawakan tinggi dan besar. Kau sudah tak berdaya selama ini. Borang masih berdaya.” “Siapa kau?” desak orang itu “Kalau kau narapraja dari Tumapel, kebetulan, biar semua orang lihat dan tahu siapa Borang. Apa maumu?” orang-orang dukuh Bantar, laki dan perempuan mulai mendesak mendekati. “Katakan berdepan-depan pada semua orang ini,” si tinggi besar meneruskan, “Kau musuh Tumapel.” “Aku bukan musuh Tumapel. Aku musuh Akuwu Tunggul Ametung. Apa perlu kuulangi?” “Katakan kau musuh Sri Baginda Kretajaya.”

Ia masih akan bersimpuh pada kaki ayahnya untuk memohon ampunannya karena tak mampu membela diri. Ia harus telan semua upacara penghinaan kaum Wisynu atas dirinya. Ia angkat dagu, dan : “Ayah, sekarang ini sahaya kalah menyerah. Dengarkan sumpah sahaya, sahaya akan keluar sebagai pemenang pada akhir kelaknya.” Harum mangir pada kulitnya bersama harum dupa-setanggi memadati ruangan besar Bilik Agung itu. Hatinya sendiri semakin sempit terhimpit. Dara yang terasuh dengan cinta kasih seorang bapa ini tak punya kekuatan untuk melawan. Ilmu dan pengetahuan, yang ditungkan padanya oleh ayahnya, tidak berdaya menghadapi Sang Akuwu. “Akhir kelaknya sahaya yang menang, Ayah, Agunglah kau, puncak Triwangsa, kaum brahmana. Agunglah Hyang Mahadewa Syiwa!” Dan Tunggul Ametung hanya seorang jantan yang tahu memaksa, merusak, memerintah, membinasakan, merampas. Bahkan membaca ia tak pernah, karena memang tidak bisa. Menulis apalagi. Dedes tak tahu harus berbuat apa. Melawan ia tak mampu. Lari ia pun tak mampu. Meraung tak mungkin. Dua orang wanita itu tiba-tiba bersiap-siap, mengangkat sembah padanya dan meninggalkan Bilik Agung. Tanpa mengangkat pandang tanpa berpaling ia mengerti, Sang Akuwu telah meninggalkan pendopo dan memasuki ruang besar ini. Ia tetap berlutut menghadap ke peraduan. Ia dengar langkah kaki. Juga ia dengar suara terompah: Yang Suci Belakangka. Langkah-langkah itu semakin mendekat, menghampirinya. Ia tahu detik-detik ini adalah upacara menaiki peraduan pengantin. Ia menggigil. Dedes tak memberikan sesuatu reaksi waktu tangan Tunggul Ametung dengan hati-hati melepas sutra terawang Mesir dari peniti dan tali, dan menyusupkan pada tangannya. Menurut tata tertib yang deketahuinya, dengan sutra itu ia harus membasuh muka Tunggul Ametung, badan dan tangan sebagai awal upacara. Tangan Akuwu itu menariknya, dengan lembut memaksanya berdiri dan memimpinnya ke arah jambang air bunga. Tekanan paksa dari Belakangka menyebabkan ia mencelupkan sutra itu ke dalam jambang dan mulai membasuh muka bopeng bekas jerawat besar, kemudian dada dan dua belah tangannya yang berbulu. Sutra itu jatuh dari tangannya yang menggigil. Ia tetap menunduk di bawah tembusan pandang Sang Akuwu.

Yang Suci mengambil sutra itu dan menggandengkan tangan Tunggul Ametung pada pengantinnya: “Yang Mulia, bawalah perempuan ini naik ke peraduan. Para dewa membenarkan. Pimpinlah dalam sanggama untuk mendapatkan karunianya, mendapatkan calon pemangku Tumapel,” ia bunyikan giring-giringnya, kemudian meninggalkan Bilik Agung. Berdua mereka berdiri di depan peraduan, mengawasi lembaran kapas yang tergelar di atas tilam. Sinar empat damar disetiap pojok bilik itu menerangi seluruh ruangan. Dan bayang-bayang hampir-hampir tiada. Tunggul Ametung menoleh pada dua orang wanita yang duduk bersimpuh di pintu. Mereka mengangkat sembah dan pergi, hilang di balik tabir berat potongan-potongan ranting bambu petung.

Tunggul Ametung merabai lembaran kapas itu dan menatap pengantinnya. Dan Dedes mengerti sepenuhnya: kapas itu akan menampung darah perawan yang sebentar lagi harus ia teteskan. Gigilannya semakin menjadi-jadi. Besok sebelum matahari terbit, kapas dengan bercak darah itu akan diambil dengan upacara oleh Gede Mirah. “Mengapa tak juga aku dengar suaramu, Permata?” ia letakkan tangan pada pundak pengantinnya, dan ia rasai gigilan itu. “Mengapa tak juga kau lepas seluruh pakaianmu? Bukankah kapas itu telah menunggu kesediaanmu?” dara itu tetap membisu. “Apakah perlu kupanggilkan Gede Mirah untuk membantumu?” Dedes menjawab dengan tangis. Tunggul Ametung menangkap muka isterinya dan diciumnya pada pipi dan lehernya: “Keayuan yang keramat ini para dewa semoga takkan merusakkannya. Jangan sampai susut keayuan ini. Dengar Dedes, aku panggilkan keabadian untuk kecantikanmu demi Wisynu Sang Pemelihara aku patrikan keayuanmu dalam keabadian dalam sebutan Ken. Diam kau, sekarang dengarkan suamimu.” Ken Dedes kehilangan keseimbangan, jatuh berlutut di hadapan peraduan.

Mendengar denting binggal yang bersintuhan tidak wajar Gede Mirah masuk lagi ke dalam, mengangkat sembah, dan: “Yang Mulia,” ia mempersembahkan kehadirannya. Tanpa menunggu perintah Gede Mirah membuka ikat pinggang emas Ken Dedes, meletakkan dengan rapih pada bagian kaki peraduan, kemudian menarik tali pinggang, dan lolos semua pakaian pengantin itu, telanjang bulat seperti boneka. Gede Mirah mengangkatnya ke atas peraduan, tepat di atas lembaran kapas. Ken Dedes menutup matanya dengan tangan dan menangis tersengal-sengal, laksana boneka emas di atas lembaran perak. Bertahun ia telah mengimpikan saat ini, waktu datang ternyata ia takut dan jijik sekaligus. Dan Gede Mirah memindahkan tangan penutup mata itu ke samping dan memperbaiki rias, mengeringkan air mata, berbisik: “Bila Hyang Surya besok mengirimkan restunya, tubuh dan jiwa pengantin ini sudah sudah jadi sepenuh wanita.” Ia tinggalkan Bilik Agung setelah mengangkat sembah. Tunggul Ametung memperhatikan tubuh isterinya yang indah tertelentang seperti kala dilahirkan a belaikan tangan pengasih pada pipi, leher, dada dan perut pengantinnya, kemudian ia sendiri naik ke atas peraduan dan menenggelamkan Dedes dalam pelukannya.