Home > KOLEKSI BUKU > PANGGIL AKU KARTINI SAJA

PANGGIL AKU KARTINI SAJA

PANGGIL-AKU-KARTINI-SAJAPengarang : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Tebal Buku: 301 hlm

Pram dalam Panggil Aku Kartini Saja, menyunting surat-surat Kartini, kemudian membahas dan mengejawantahkan sesuai dengan paham yang dipercayainya secara kental. Semuanya ini hanya pengembangan dalam bahasa Pram ataupun Nursyahbani Katjasungkana yang disesuaikan dengan tujuan masing-masing, untuk menjadikan Kartini yang cerdas ini sebagai figur yang memang sangat pas untuk dibawa ke paham apapun, karena secara tidak terduga Kartini meramu semua paham (sosialis, liberalis, demokratis, religius, feminis, dsb) dalam suatu kemasan (baca: prosentase) yang berimbang dalam sejarah hidupnya melalui tulisan. Bahasan Nursyahbani yang bersifat nostalgia, misalnya Nursyahbani dari kecil dididik oleh orangtuanya untuk menjadikan buku Habis Gelap Terbitlah Terang ini menjadi buku keramat (sesuai dengan kalimat yang diambil dari sambutan Nursyahbani : ………menyerbu buku R.A. Kartini itu dengan mencuci tangan lebih dulu……..), malah membuat ”kebesaran” Kartini menjadi lebih ”enteng”.

Di atas adalah sisi-sisi kekurangan yang sejak dini perlu dicermati. Namun sekali lagi bahwa kepiawaian Pramoedya dalam mengolah kata dan menggiring pembaca untuk turut larut dalam kehidupan Kartini patut diacungi jempol. Bagaimana lincah dan keingintahuan Kartini dapat terasa dengan membaca buku ini. Bagaimana terbayangkan Kartini begitu tomboy (padahal saat itu masih memakai kain dan kebaya), sewaktu dengan antusias mengikuti anak buah kapal perang ”Sumatra” berkebangsaan Belanda yang sebelumnya tidak sengaja (padahal konon sengaja) tersasar masuk ke Kabupaten dan selanjutnya Kartini diijinkan ikut melihat kapal dan mengetahui isi kapal dan mengetahui cara-cara menyetirnya. Nekad dan ingin tahu. (Atau betapa gembiranya sewaktu dia kesampaian untuk menginjakkan kaki di Batavia bersama orang tua dan saudara-saudaranya). Betapa punya nyali si Kartini bau kencur ini di masa itu, di mana hampir semua eyang putri buyut kita waktu itu masih takut keluar rumah, duduk menunggu lamaran seseorang atau memasak di dapur dan menanak nasi dengan badan berbau asap kayu bakar.

Bagaimana cerdas dan all round-nya Kartini dalam menguasai seni maupun ilmu pengetahuan digambarkan Pramoedya dengan demikian jelas. Melukis (bersama dengan adiknya Kardinah), bermain piano (di rumah teman Belanda-nya), menyukai tembang dan lagu-lagu jawa, bermain gamelan (Kartini menyukai alat ginonjing), membatik, menggerakkan dan memberi semangat kepada rakyat Jepara untuk mengembangkan kerajinan rakyat (mempromosikan ukiran jepara), membuat puisi, menulis prosa, melahap bacaan apa saja (dari iklan, catatan, sampai buku-buku berbobot hasil karangan pengarang nasional maupun internasional), menguasai bahasa Belanda dengan fasih (Bahasa Belanda Kartini diakui sangat bagus oleh pengguna Bahasa Belanda), mempelajari bahasa Perancis, kemudian ingin juga belajar bahasa Inggris. Bahkan menurut saya, Kartini juga berkeinginan untuk mempelajari Bahasa Arab. Karena di surat tertanggal 6 Nopember 1899 yang ditujukan ke Estelle Zehandelaar tertulis: ……..Bagaimana mungkin aku bisa mencintai agamaku,kalau aku tidak mengenalnya? Tidak boleh mengetahuinya? Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun. Di sini tiada seorangpun mengenal bahasa Arab.

Kartini begitu cerdas bukan? Dia tidak ingin melakukan taklit semata dengan ajaran-ajaran para kyai waktu itu. Tidak hanya sekedar membaca huruf arab, namun sangat ingin mengartikannya. Coba apa yang terjadi bila Kartini memahami huruf arab dan arti Al Qur’an?

Namun dalam Panggil Aku Kartini Saja, surat Kartini tersebut di atas diulas oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai berikut :

Jadi Islam sampai kepada Kartini tinggal sebagai barang warisan yang karena tidak dikenalnya dengan baik disimpan saja dalam lemari.

Mungkin bahasan akan menjadi berbeda bila pengulas surat-surat Kartini adalah seorang Sunaryo Broto, Ezrinal Azis (penulis Cerita Hati), Mudjib Utomo (ketiganya adalah teman satu club di CB-33) atau Ahmad Tohari.

Kartini adalah sosok yang demikian brilian (mungkin IQ dan EQ jauh di atas standard rata-rata) dan selalu penuh cita-cita. Bahkan sosok langka di masa sekarang (dan ini juga diakui oleh Pram). Perpaduan antara kecerdasan, ke-intelek-an, kelembutan, kerendahhatian, ke-modern-an, kesantuan, seorang yang realistis dan berpikir logis, dan seorang yang mencintai keluarga dan menghormati orang tua. Jadi sangat mengherankan kalau kemudian Kartini menjadi icon bagi perempuan yang menginginkan kebebasan sebebas-bebasnya; karena dalam sosok Kartini yang terlukiskan adalah seseorang dengan jiwa seni tinggi, cerdas, lembut, santun, penuh semangat, care terhadap orang lain, intelek dan modern.

Dalam Panggil Aku Kartini Saja, Pram juga mengulas gaung Kartini di dunia Internasional. Bagaimana Ratu Belanda saat itu mengagumi hasil karya batik buatan tangan Kartini dan ukiran kayu Jepara hasil promosi dan dorongan dari Kartini (terlihat kepedulian Kartini dalam mendorong usaha kecil masyarakat) dalam pameran hasil karya bangsa Hindia di negeri Belanda (pada saat Kartini masih hidup). Bagaimana tokoh-tokoh (bukan hanya perempuan saja) yang tertarik untuk mengutip kalimat-kalimat Kartini dan menterjemahkan ke dalam berbagai bahasa setelah surat-surat Kartini dihimpun dan diterbitkan oleh Mr. Abendanon.

Di sinilah keunikan dalam membaca karya Pram, khususnya buku Panggil Aku Kartini Saja. Saya jamin pembaca juga akan diajak berdialog dengan diri sendiri oleh Pram, tidak hanya sekedar mengikuti apa kata dan cerita indah dari Pram. Dan banyak hal lain mengenai kehidupan kaum ningrat, kehidupan Kartini sendiri, maupun kehidupan rakyat jelata di jaman Kartini yang dapat di-reply ulang oleh surat-surat Kartini ke sahabat-sahabat penanya: Estelle Zeehandelaar, Nyonya H.G. de Booij-Boissevain, Nyonya Abendanon, E.C. Abendanon, Nyonya Van Kol, Dr. N. Adriani, dsb-nya. Bagaimana Kartini tidak menyukai beberapa adat Jawa yang membuat pergaulan di antara saudara menjadi kaku : Mengejutkan adat kami orang Jawa. Kalau seorang adik duduk di atas kursi dan aku hendak lalu, mestilah dia segera meluncurkan diri ke tanah dan di sana duduk menekuri tanah itu sampai aku tak nampak lagi olehnya…..(Bayangkan bila adat ini berlaku di masa sekarang).

Banyak hal-hal menarik terungkap dengan kepiawaian Pramoedya dalam bertutur dan menghayati sejarah. Untuk menyusun buku ini Pramoedya juga melakukan riset dan mengunjungi tempat-tempat di mana Kartini pernah tinggal, dan juga mengunjungi sanak famili Kartini untuk mendapatkan informasi yang akurat, sehingga semua kalimat yang telah tersusun dalam benaknya dapat ”dibenarkan” dengan membaca surat Kartini maupun cerita-cerita tentang Kartini dari sanak saudaranya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: