Archive

Archive for the ‘JURNAL PREDATOR’ Category

Jurnal Predator dan Politik Pengetahuan

Di balik perdebatan tentang jurnal predator terkesan ada upaya saling merebut pengakuan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atas eksistensi peneliti dan karyanya.

Umum diketahui, menerbitkan artikel pada jurnal internasional dengan  peer review merupakan proses panjangdan tak mudah. Disisi lain, jurnal-jurnal kategori predator bersedia menerbitkan artikel secara cepat dan relatif mudah. Jika artikel-artikel yang diterbitkan melalui mutu proses yang amat berbeda itu diakui sama secara kualitas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), masuk akal bila para penulis pada jurnal peer review merasa keberatan.

Saya setuju dengan gagasan Terry Mart (Kompas, 13/5) bahwa Dikti harus memiliki standar penilaian yang lebih tegas dan jelas tentang definisi dan kategori jurnal ilmiah yang baik. Tidak semua jurnal yang berlabel internasional, misalnya, sungguh-sungguh berkaliber internasional.

Pengakuan oleh komunitas komunitas keilmuan sebidang merupakan indikator proses yang krusial untuk menilai kredibilitas dan mutu jurnal. Indikator krusial lainnya yakni tahap-tahap penilaian artikel yang harus dilalui sebelum editor memutuskan menerbitkan atau menolak. Tahap-tahap itu bisa menjadi panduan meneropong derajat mutu artikel-artikel yang dipublikasikan suatu jurnal.

Pada jurnal kategori predator, saringan atas kualitas artikel praktis tidak ada. Editor dengan mudah dan cepat memenuhi permintaan penulis artikel untuk ”menaikkan” atau ”menurunkan” artikelnya dari situs web jurnal (Kompas, 24/4).

Segera merevisi

Kiranya Dikti perlu segera merevisi daftar jurnal yang diakuinya dengan membuat kategorisasi dan kriteria standar mutu penilaian berdasarkan temuan dan perdebatan terbaru ini.

Di luar itu harus disadari bahwa menjamurnya gejala jurnal predator bukan semata-mata persoalan kredibilitas jurnal dan derajat mutu artikel-artikel yang diterbitkannya, tetapi berkaitan erat dengan politik ilmu pengetahuan.

Pada jurnal-jurnal dengan peer review, proses seleksi artikel yang secara substantif sudah ketat itu sering menjadi lebih ”ketat” karena unsur-unsur non akademik yang mendasari arah kebijakan editor dan penerbit jurnal.

Ada dua hal. Pertama, jurnal-jurnal berbasis komunitas keilmuan sering ”dikuasai” anggota-anggota komunitas atau bahkan oleh segelintir elite dengan aliran keilmuan tertentu dari komunitas itu. Kasus yang telah lama beredar adalah jurnal kedokteran umum milik sebuah asosiasi kedokteran di Amerika Serikat. Bukan hanya anggota asosiasi yang kesulitan memasukkan artikel pada jurnal asosiasi, anggota asosiasi pun mengalami kesulitan jika mereka berbeda aliran keilmuan dengan elite berpengaruh di asosiasi itu.

Kedua, kebanyakan penulis dari negara-negara ”berkembang” mengalami kesulitan ketika memasukkan artikel ke jurnal  peer review di negara-negara maju, kecuali jika mereka berafiliasi dengan institusi tertentu di negara maju. Dalam hal ini saya tidak sepakat dengan pendapat peneliti Ariel Heryanto (2007), yang menyebutkan rendahnya produktivitas karya ilmiah ilmuwan Indonesia sebagai penyebab kesenyapan kiprah mereka di kancah keilmuan internasional.

Jika diperhatikan, banyak peneliti Indonesia menerbitkan artikel mereka di aneka jurnal ilmiah berkaliber dunia atau mempresentasikan hasil penelitian pada konferensi-konferensi asosiasi keilmuan internasional yang bergengsi. Namun, nyaris semua ilmuwan Indonesia itu memakai bendera institusi dari negara maju.

Kenyataan itu telah memunculkan perdebatan tentang gejala brain-drain  ilmuwan-ilmuwan Indonesia atau soal garingnya kebijakan Pemerintah RI dalam memfasilitasi dan mengelola sumberdaya manusia terdidik. Namun,yang luput dari perhatian adalah adagaris politik bersuasana kolonialisme baru dalam produksi (dan penyebaran) ilmu pengetahuan oleh negara-negara maju, khususnya di Barat.

Sebagaimana pendidikan formal di negara-negara kolonial di Asia, Amerika Latin dan Afrika dulu dibangun dengan kendali kebijakan yang berorientasi ke metropolimperial di Barat, demikian pun sekarang. Ilmu dan pengetahuan tentang bekas negara-negara kolonial, termasuk Indonesia, diproduksi oleh ilmuwan negara-negara maju atau lewat lembaga dan kacamata negara maju.Meskipun tidak sistemik, praktik ini tampaknya terjadi  by design, bukan  by accident.

Dugaan tersebut terdukung fakta bahwa jurnal-jurnal peer review yang diterbitkan oleh negara-negara maju bekas koloni kenyataannya dikelola dan dengan editor para ahli (bukan mitra bestari) yang disewa dari Amerika Serikatdan Eropa. Jurnal kajian Asia Tenggara yang cukup bergengsi di Singapura dan Jepang dikelola oleh editor profesional dari universitas-universitas di Eropa yang dikontrak khusus untuk tugas mengelola jurnal. Sebuah jurnal baru tentang kajian Asia di sebuah universitas di Korea Selatan pada acara peluncurannya tegas-tegas menyatakan peran utama editor berkebangsaan Eropa yang telah dikontrak untuk beberapa tahun ke depan.

Kendali ideologis

Terkesan  xenophobic, anti-asing, tetapi fakta-fakta itu menegaskan bahwa proses produksi dan penyebaran ilmu pengetahuan, khususnya lewat jurnal dan konferensi ilmiah, tak lepas dari kendali ideologis yang aromanya agak-agak neokolonialis. Jadi, bukan semata-mata soal mutu karya dan kredibilitas jurnal.

Kehadiran jurnal-jurnal kategori predator mungkin dapat dibaca dalam kerangka gugatan atau protes dari mereka yang selama ini tidak terwadahi dalam jurnal-jurnal  peer review terhadap dominasi negara-negara maju atau elite ilmuwan tertentu dari suatu komunitas keilmuan atas proses produksi, aksesibilitas, dan penyebaran ilmu pengetahuan.

Karena itu, tidak cukup jika Dikti hanya membuat kriteria penilaian dan kategorisasi jurnal-jurnal yang baik dan yang predator berdasarka klasifikasi (dan klaim) yang dibuat ”orang luar” dan telah beredar global belakangan ini.

Dikti harus memfasilitasi dirintisnya jaringan jurnal-jurnal Indonesia berkaliber internasional dengan patokan mutu yang ditentukan sendiri oleh komunitas-komunitas akademisi Indonesia sesuai dengan peta kebutuhan dan kondisi keilmiahan di Indonesia saat ini.

Jika Dikti hanya menampik mengakui artikel-artikel yang diterbitkan jurnal berkategori predator tanpa menawarkan solusi, itu sama saja ia abai terhadap aneka faktor yang menyebabkan banyak akademisi Indonesia dengan bendera institusi Indonesia tidak dapat menembus jurnal internasionalpeer review.

Agus Suwignyo, Pedagog cum Sejarawan
Pendidikan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
KOMPAS, 23 Mei 2013

Advertisements
Categories: JURNAL PREDATOR

Heboh Jurnal Predator

Oleh Sudarsono Hardjosoekarto

Tulisan sejawat dari FMIPA UI, Terry Mart, berjudul “Jurnal Predator” (Kompas, 2 April 2013), sangat bagus dan mencerahkan. Akan tetapi, tulisan itu perlu dilengkapi dengan informasi terkait yang berimbang supaya dunia akademik kita tidak heboh yang sia-sia.

Sepanjang 2012-2013, dua artikel saya dipublikasikan pada Systemic Practice and Action Research (SPAR), salah satu jurnal milik penerbit terkemuka, Springer. Berkat tulisan pada jurnal ini, saya juga diminta editor SPAR untuk menjadi mitra bestari (reviewer) jurnal yang cukup banyak terindektasi tersebut. Di tengah kurun waktu terbitnya dua artikel pada SPAR itu, satu artikel saya yang lain dipublikasikan pada Human Resource Management Research, salah satu jurnal milik Sapub, penerbit yang masuk dalam daftar hitamnya Jeffrey Beall.

Terkait hebohnya tentang jurnal predator dalam kebijakan resmi Ditjen Dikti, Kemdikbud, saya berkomunikasi langsung dengan editor Sapub dan dengan Jeffrey Beall. Informasi ini kiranya dapat melengkapi tulisan Terry Mart dari sisi lain.

Penulisan artikel

Tiga artikel yang dipublikasikan pada dua penerbit itu—Springer yang top dan Sapub yang predator—adalah hasil riset yang dibiayai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI).

Sebelum dipublikasikan, artikel itu telah melewati proses akademik yang panjang dan memenuhi asas recoverability, sesuai prinsip riset tindakan berbasis soft systems methodology yang dapat dipertanggungjawabkan. Riset lapangan, presentasi dalam forum akademik internasional, dan proses penjurian telah dilakukan secara lengkap, berulang, dan dalam waktu yang panjang.

Kepentingan utama saya kontak langsung dengan Beall adalah untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan Beall itu juga memenuhi asas recoverability akademik dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai Beall menuntut kepada para kontributor (penulis), editor jurnal, dan penerbit dengan standar tertentu, tetapi cara kerja Beall sendiri asal-asalan. Mula-mula diskusi lancar, tetapi belakangan Beall tak bersedia menjawab beberapa pertanyaan saya yang penting.

Pertama, Beall tidak bersedia menjawab mengapa dia melakukan analisisnya berbasis penerbit dan bukan berbasis jurnal. Beall lebih berorientasi pada penerbit predator daripada jurnal predator. Metode seperti ini mengandung kelemahan mendasar.

Banyak penerbit yang sedang berkembang. Dalam satu penerbit, boleh jadi ada jurnal yang sudah bagus, tetapi ada juga jurnal yang sedang pada fase pertumbuhan. Dengan analisis yang berbasis penerbit ini, Beall lebih senang menyimpulkan bahwa penerbit—yang menurut dia predator—sebaiknya dihindari. Mestinya akan lebih adil bila yang dinilai itu jurnalnya, bukan penerbitnya.

Kedua, ketika ditanya, mengapa Beall memasukkan Eurojournal sebagai penerbit predator, padahal banyak jurnal yang diterbitkan oleh penerbit ini juga memiliki faktor dampak (impact factor) dan terindeks pada Scopus? Dengan enteng Beall menjawab, banyak jurnal masuk ke Scopus itu karena kepentingan bisnis Scopus semata?

Bila jawaban ini dibalik ke pertanyaan mengapa Beall menulis laman tentang penerbit predator, jangan-jangan juga hanya didasari kepentingan bisnis Beall atau penerbit di balik Beall. Boleh jadi, sebagai pustakawan, Beall akrab dengan penerbit printed tertentu yang tidak suka dengan berkembangnya jurnal-jurnal yang terbuka diakses secara bebas.

Ketidaksediaan Beall menjawab pertanyaan, dan menghentikan diskusi sepihak, membawa pada kesimpulan, kejujuran dan kualitas akademik Beall sangatlah rendah. Analisisnya sulit dipertanggungjawabkan, kalau tidak hendak dikatakan justru berpotensi sebagai skandal ilmiah.

Penerbit jujur

Secara bersamaan, saya juga berkomunikasi dengan editor Sapub tentang heboh jurnal predator itu. Dapat dipahami bila editor Sapub menyanggah analisis Beall, dan secara sepihak menegaskan jaminan kredibilitas dan kualitas terbitannya. Editor Sapub juga menyayangkan kehebohan komunitas akademik di Indonesia akibat dipakainya laman pribadi Beall oleh otoritas Ditjen Dikti.

Namun, berbeda dengan Beall yang tak jujur dan tak bersedia melanjutkan diskusi, editor Sapub lebih jujur dan terbuka kepada kontributor. Karena artikel saya telah melewati proses akademik yang panjang dan terdapat peluang diterbitkan pada jurnal lain, saya menarik artikel itu dari jurnal yang diterbitkan Sapub. Ternyata, editor Sapub sangat mudah dan cepat memenuhi permintaan saya tanpa harus membayar satu sen pun.

Menariknya, beberapa hari setelah artikel saya itu dihapus dari Sapub, editor Springer melengkapi pengenal obyek digital (digital object identifier) dari referensi untuk draf naskah saya yang akan terbit segera dengan artikel yang pernah diterbitkan Sapub itu. Jelas Springer tidak mempersoalkan Sapub. Menyadari penghargaan Springer kepada Sapub seperti itu, buru-buru saya minta editor Sapub untuk mengembalikan lagi artikel saya yang sudah ditarik ke dalam jurnal Sapub. Ternyata editor Sapub memenuhi permintaan saya lagi juga tanpa harus membayar sepeser pun. Pengalaman ini tentu bertolak belakang dengan informasi yang ditulis oleh sejawat Terry Mart.

Harus kredibel

Kriteria jurnal dan publikasi yang baik, yang tidak baik, yang direkomendasi, dan tidak direkomendasi sangatlah penting untuk kemajuan dunia akademik kita. Tentu, penetapan kriteria ini juga harus dilakukan berdasarkan metodologi yang kredibel.

Kriteria adanya alamat darat suatu jurnal atau penerbit memang penting. Namun, penetapan kriteria dengan hanya menggunakan fasilitas Google Earth, seperti dilakukan Jeffrey Beall, yang kemudian dipakai untuk menyimpulkan status predator suatu penerbit sangatlah dipertanyakan. Ambil contoh Jurnal SPAR: board of editor beralamat di New York, editor-in-chief tinggal di Belanda, deputy editor tinggal di Inggris, anggota international advisory committee tersebar di semua benua, penerbitnya berdomisili di Jerman, production correction team berlokasi di India, dan penulis berkantor di Depok. Sulit dipahami teknik ecek-ecek yang digunakan Beall untuk menentukan status predator suatu jurnal atau penerbit.

Karena itu, patut disayangkan bila kemudian laman pribadi Jeffrey Beall yang kualitas ilmiahnya dipertanyakan itu digunakan otoritas resmi Ditjen Dikti untuk menentukan kriteria baik tidaknya suatu jurnal dan publikasi. Beall sendiri menyatakan disclaimer dalam lamannya itu. Opininya hanyalah pendapat pribadi, tidak mencerminkan posisinya sebagai pustakawan di Universitas Colorado. Akan lebih bijak jika Ditjen Dikti sebagai otoritas tertinggi dalam penetapan kriteria jurnal dan publikasi yang berkualitas menggunakan prinsip, tata kerja, dan prosedur sendiri yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sudarsono Hardjosoekarto

Dosen Departemen Sosiologi FISIP UI

(Kompas cetak, 24 April 2014)

Categories: JURNAL PREDATOR

Jurnal “Pseudo-ilmiah” Siap Memangsa

IRWAN JULIANTO

Tak kurang dari Gina Kolata, jurnalis sains-kesehatan kawakan koran New York Times, menaruh perhatian pada jurnal online “pseudo-ilmiah” alias jurnal predator. Ilmuwan yang dimuat tulisannya malah harus membayar.

Tulisan Gina Kolata berjudul “Scientific Articles Accepted (Personal Checks, Too)” dimuat di New York Times, 8 April 2013, dan dimuat ulang di International Herald Tribune pada 9 April 2013 dengan judul “Taken in by Pseudo-Academic Journals”. Sebenarnya topik ini sudah ditulis fisikawan Universitas Indonesia, Terry Mart, sepekan sebelumnya dengan judul “Jurnal Predator” di Opini Kompas, 2 April 2013.

Baik Gina Kolata maupun Terry Mart sama-sama merujuk pada Jeffrey Beall, pustakawan riset Universitas Colorado di Denver, Amerika Serikat. Beall mempunyai daftar hitam jurnal abal-abal yang dijulukinya sebagai predatory open-access journals. Tahun 2010, baru ada 20 penerbit jurnal predator, tetapi saat ini membengkak menjadi lebih dari 300. Ia memperkirakan ada sekitar 4.000 jurnal tipu-tipu saat ini yang siap memangsa ilmuwan yang membutuhkan publikasi artikel ilmiah mereka. Jumlah ini merupakan sedikitnya 25 persen jurnal online atau jurnal akses terbuka yang ada di dunia.

Maraknya jurnal ilmiah online, termasuk yang predator, merupakan akibat tingkat kebutuhan (demand) yang tinggi. Ilmuwan dan akademisi dari negara-negara sedang berkembang membutuhkan publikasi hasil riset mereka di jurnal-jurnal internasional. Di Indonesia, misalnya, akhir Januari 2012 Dirjen Dikti Kemdikbud mewajibkan para kandidat doktor sejak Agustus 2012 mengirimkan karya ilmiah ke jurnal internasional. Prasyarat “yang betul-betul salah kaprah” ini pernah dikecam habis oleh Franz Magnis-Suseno lewat tulisannya di Kompas, 8 Februari 2012, “Dikti di Seberang Harapan?”. Juga oleh Inaya Rakhmani lewat tulisannya “Publikasi Ilmiah dan Solusi Jangka Pendek” di Kompas, 25 Februari 2013.

Jalan pintas

Tuntutan untuk publikasi ke jurnal nasional terakreditasi ataupun jurnal internasional ini tak jarang juga berkaitan dengan syarat kenaikan pangkat dan sertifikasi dosen serta dana hibah riset yang jumlahnya besar. Jurnal cetak internasional bergengsi, seperti Nature dan Science, ataupun jurnal-jurnal ilmu sosial yang diakreditasi nyaris mustahil bisa ditembus karena standar yang tinggi selain penulis harus menunggu antrean amat lama. Jurnal- jurnal bergengsi ini dikenal untuk artikel-artikel ilmiah yang ditelaah pakar seilmu (peer- reviewed) yang teramat ketat.

Karena itu, jurnal online merupakan alternatif atau jalan pintas yang menggiurkan. Jurnal open-access baru muncul sekitar 10 tahun lalu, tetapi segera mendapatkan sambutan antusias. Di AS, awalnya jurnal online yang dipublikasikan Public Library of Science amat disegani karena ditelaah pakar seilmu dengan amat ketat. Khusus untuk artikel-artikel ilmu kedokteran didata oleh PubMed, yang diseleksi karena kualitasnya tak perlu diragukan.

Namun, celakanya, keberadaan jurnal-jurnal online bergengsi mulai disaingi oleh jurnal-jurnal predator yang memungut bayaran cukup mahal sebagai imbalan tulisan yang pasti dimuat tanpa seleksi oleh tim pakar seilmu. Para editor jurnal predator ini hanya jadi pajangan, tak jarang mereka dijebak dengan iming-iming imbalan 20 persen penghasilan jurnal, seperti yang dilakukan The Journal of Clinical Trials & Patenting yang diterbitkan Avens Publishing Group, jurnal dan penerbit yang ada dalam daftar hitam Jeffrey Beall.

Thomas Price, asisten profesor endokrinologi reproduksi dan fertilitas di Fakultas Kedokteran Universitas Duke di North Carolina, AS, misalnya, bergabung dalam dewan redaksi The Journal of Gynecology & Obstetrics karena ia melihat nama-nama pakar yang disegani di situs web. Ia heran karena berkali-kali diminta mencari penulis dan memasukkan tulisannya sendiri. Ia menolak karena jurnal ilmiah yang benar tidak perlu melakukan cara-cara seperti itu. Ia sudah berkali-kali, selama tiga tahun terakhir, meminta namanya dicabut, tetapi tetap saja terpampang. Sekali seorang ilmuwan masuk, namanya sulit dicabut.

Penerbit lain yang juga ada dalam daftar hitam Beall adalah Omics Group yang dipimpin Srinubabu Gedela: memiliki 250 jurnal dan memungut bayaran sampai 2.700 dollar AS per makalah! Gedela mengaku seorang doktor dari sebuah universitas di India dan pakar bioteknologi.

Lain lagi dengan pengalaman Paulino Martinez, seorang dokter di Meksiko yang mengirimkan dua artikel sebagai respons terhadap surat elektronik yang ia terima dari The Journal of Clinical Case Reports. Keduanya diterima dan tentu saja ia senang. Namun, datanglah tagihan 2.900 dollar AS sebagai ongkos publikasi. Martinez minta kedua artikelnya ditarik, tetapi tetap saja diterbitkan. Sempat didiskon jadi 2.600 dollar AS, tetap Martinez tak mampu dan tak mau membayar. Akhirnya, setelah setahun berdebat lewat e-mail dan telepon, ia tak ditagih lagi walaupun ia tetap dianggap berutang.

Situasi di Indonesia

Terry Mart, ketika dihubungi kemarin, mengatakan, ilmuwan Indonesia seyogianya mengutamakan integritas ilmiah di atas kum dan gairah untuk mengejar akreditasi dosen serta hibah riset. Masalah jurnal predator akan dia bahas dalam seminar di Kampus UI Depok, Kamis besok.

Sunarto, doktor komunikasi UI yang sekarang mengepalai Program Pascasarjana Komunikasi Universitas Diponegoro, Semarang, juga menyatakan keprihatinannya jika ada dosen yang hanya mengejar kepangkatan ketimbang pendalaman ilmu sehingga tak memedulikan kualitas jurnal ilmiah karena yang penting artikelnya bisa dimuat. Ia menyebutkan, ada penerbit di Yogyakarta yang secara khusus memublikasikan jurnal dengan biaya sekitar Rp 3 juta untuk setiap artikel.

Dirjen Dikti Kemdikbud punya daftar hitam jurnal dalam dan luar negeri yang tak diakui. Daftar jurnal internasional jauh dari lengkap. Di dalam negeri ada enam, lima di antaranya diterbitkan universitas negeri.

(Kompas cetak, 17 April 2013)

Categories: JURNAL PREDATOR

Scientific Articles Accepted (Personal Checks, Too)

By GINA KOLATA
Published: April 7, 2013 

The scientists who were recruited to appear at a conference called Entomology-2013 thought they had been selected to make a presentation to the leading professional association of scientists who study insects.

But they found out the hard way that they were wrong. The prestigious, academically sanctioned conference they had in mind has a slightly different name: Entomology 2013 (without the hyphen). The one they had signed up for featured speakers who were recruited by e-mail, not vetted by leading academics. Those who agreed to appear were later charged a hefty fee for the privilege, and pretty much anyone who paid got a spot on the podium that could be used to pad a résumé.

I think we were duped,” one of the scientists wrote in an e-mail to the Entomological Society.

Those scientists had stumbled into a parallel world of pseudo-academia, complete with prestigiously titled conferences and journals that sponsor them. Many of the journals and meetings have names that are nearly identical to those of established, well-known publications and events.

Steven Goodman, a dean and professor of medicine at Stanford and the editor of the journal Clinical Trials, which has its own imitators, called this phenomenon “the dark side of open access,” the movement to make scholarly publications freely available.

The number of these journals and conferences has exploded in recent years as scientific publishing has shifted from a traditional business model for professional societies and organizations built almost entirely on subscription revenues to open access, which relies on authors or their backers to pay for the publication of papers online, where anyone can read them.

Open access got its start about a decade ago and quickly won widespread acclaim with the advent of well-regarded, peer-reviewed journals like those published by the Public Library of Science, known as PLoS. Such articles were listed in databases like PubMed, which is maintained by the National Library of Medicine, and selected for their quality.

But some researchers are now raising the alarm about what they see as the proliferation of online journals that will print seemingly anything for a fee. They warn that nonexperts doing online research will have trouble distinguishing credible research from junk. “Most people don’t know the journal universe,” Dr. Goodman said. “They will not know from a journal’s title if it is for real or not.”

Researchers also say that universities are facing new challenges in assessing the résumés of academics. Are the publications they list in highly competitive journals or ones masquerading as such? And some academics themselves say they have found it difficult to disentangle themselves from these journals once they mistakenly agree to serve on their editorial boards.

The phenomenon has caught the attention of Nature, one of the most competitive and well-regarded scientific journals. In a news report published recently, the journal noted “the rise of questionable operators” and explored whether it was better to blacklist them or to create a “white list” of those open-access journals that meet certain standards. Nature included a checklist on “how to perform due diligence before submitting to a journal or a publisher.”

Jeffrey Beall, a research librarian at the University of Colorado in Denver, has developed his own blacklist of what he calls “predatory open-access journals.” There were 20 publishers on his list in 2010, and now there are more than 300. He estimates that there are as many as 4,000 predatory journals today, at least 25 percent of the total number of open-access journals.

It’s almost like the word is out,” he said. “This is easy money, very little work, a low barrier start-up.”

Journals on what has become known as “Beall’s list” generally do not post the fees they charge on their Web sites and may not even inform authors of them until after an article is submitted. They barrage academics with e-mail invitations to submit articles and to be on editorial boards.

One publisher on Beall’s list, Avens Publishing Group, even sweetened the pot for those who agreed to be on the editorial board of The Journal of Clinical Trails & Patenting, offering 20 percent of its revenues to each editor.

One of the most prolific publishers on Beall’s list, Srinubabu Gedela, the director of the Omics Group, has about 250 journals and charges authors as much as $2,700 per paper. Dr. Gedela, who lists a Ph.D. from Andhra University in India, says on his Web site that he “learnt to devise wonders in biotechnology.”

Open-access publishers say that the papers they publish are reviewed and that their businesses are legitimate and ethical.

“There is no compromise on quality review policy,” Dr. Gedela wrote in an e-mail. “Our team’s hard work and dedicated services to the scientific community will answer all the baseless and defamatory comments that have been made about Omics.”

But some academics say many of these journals’ methods are little different from spam e-mails offering business deals that are too good to be true.

Paulino Martínez, a doctor in Celaya, Mexico, said he was gullible enough to send two articles in response to an e-mail invitation he received last year from The Journal of Clinical Case Reports. They were accepted. Then came a bill saying he owed $2,900. He was shocked, having had no idea there was a fee for publishing. He asked to withdraw the papers, but they were published anyway.

I am a doctor in a hospital in the province of Mexico, and I don’t have the amount they requested,” Dr. Martínez said. The journal offered to reduce his bill to $2,600. Finally, after a year and many e-mails and a phone call, the journal forgave the money it claimed he owed.

Some professors listed on the Web sites of journals on Beall’s list, and the associated conferences, say they made a big mistake getting involved with the journals and cannot seem to escape them.

Thomas Price, an associate professor of reproductive endocrinology and fertility at the Duke University School of Medicine, agreed to be on the editorial board of The Journal of Gynecology & Obstetrics because he saw the name of a well-respected academic expert on its Web site and wanted to support open-access journals. He was surprised, though, when the journal repeatedly asked him to recruit authors and submit his own papers. Mainstream journals do not do this because researchers ordinarily want to publish their papers in the best journal that will accept them. Dr. Price, appalled by the request, refused and asked repeatedly over three years to be removed from the journal’s editorial board. But his name was still there.

They just don’t pay any attention,” Dr. Price said.

About two years ago, James White, a plant pathologist at Rutgers, accepted an invitation to serve on the editorial board of a new journal, Plant Pathology & Microbiology, not realizing the nature of the journal. Meanwhile, his name, photograph and résumé were on the journal’s Web site. Then he learned that he was listed as an organizer and speaker on a Web site advertising Entomology-2013.

“I am not even an entomologist,” he said.

He thinks the publisher of the plant journal, which also sponsored the entomology conference, — just pasted his name, photograph and résumé onto the conference Web site. At this point, he said, outraged that the conference and journal were “using a person’s credentials to rip off other unaware scientists,” Dr. White asked that his name be removed from the journal and the conference.

Weeks went by and nothing happened, he said. Last Monday, in response to this reporter’s e-mail to the conference organizers, Jessica Lincy, who said only that she was a conference member, wrote to explain that the conference had “technical problems” removing Dr. White’s name. On Tuesday, his name was gone. But it remained on the Web site of the journal.

Dr. Gedela, the publisher of the journals and sponsor of the conference, said in an e-mail on Thursday that Dr. Price and Dr. White’s names remained on the Web sites “because of communication gap between the EB member and the editorial assistant,” referring to editorial board members. That day, their names were gone from the journals’ Web sites.

“I really should have known better,” Dr. White said of his editorial board membership, adding that he did not fully realize how the publishing world had changed. “It seems like the Wild West now.”

This article has been revised to reflect the following correction:

Correction: April 9, 2013

An article on Monday about questionable scientific journals and conferences misstated the name of a city in Mexico that is home to a doctor who sent articles to a pseudo-academic journal. It is Celaya, not Ceyala.

This article has been revised to reflect the following correction:

Correction: April 10, 2013

An article on Monday about questionable scientific journals and conferences erroneously included one publishing company among those on a list of “predatory open-access journals,” known as Beall’s list. Although Dove Press was on the list in 2012, it has since been removed.

Categories: JURNAL PREDATOR

“Self-Plagiarism” atau Auto-Plagiat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan gencar mencegah dan memberantas praktik plagiat, terutama sejak keluar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Hasilnya, sungguh mengejutkan.

Pelakunya bukan hanya dosen dan mahasiswa, melainkan juga guru. Bahkan, politisi. Pada permendiknas itu, plagiat didefinisikan “Perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai“. Pada Pasal 1 Ayat (2) disebutkan, praktik plagiat mencakup sesuatu yang dibuat, diterbitkan, dipresentasikan, ataupun dimuat.

Selain plagiat, ada soal ikutan yang tak tercantum dalam Permendiknas No 17/2010, yaitu “auto-plagiat“, terjemahan dari bahasa Inggris self-plagiarism. Ensiklopedia elektronik Wikipedia menulis, self-plagiarism adalah pemakaian lagi karya sendiri secara signifikan, identik, atau mendekati identik, tanpa memberi tahu tindakan itu atau tanpa merujuk karya aslinya.

Istilah self-plagiarism masih pro-kontra. Stephanie J Bird, penulis Self-plagiarsm and dual and redundant publications: What is the Problems?, misalnya, menganggap pemakaian istilah itu tak tepat karena definisi plagiat mensyaratkan ada “pihak lain” yang dicurangi. Sementara, dalam hal pemakaian kembali karya sendiri itu tak ada pihak lain yang dicurangi. David B Resnik, ahli bioetika dari National Institutes of Health, AS, tak keberatan dengan istilah self-plagiarism karena di dalamnya terdapat unsur ketidakjujuran. Namun, memang bukan pencurian intelektual.

Pertanyaannya, apakah semua pemakaian kembali karya ilmiah, baik sebagian maupun keseluruhan, baik dalam pembuatan, pemuatan, publikasi, maupun presentasi (tanpa menyebut sumber secara memadai), dianggap auto-plagiat? Kalau benar, rasanya tiada ilmuwan, dosen, atau akademisi yang tak sering melakukannya.

Perbedaan pandangan tentang auto-plagiat juga pada tiap keilmuan. The Journal of International Business Studies (JIBS), misalnya, tegas memasukkan auto-plagiat bagian dari kode etik yang harus dihindari penulis. Pada JIBS Code of Ethics for Authors dinyatakan, self-plagiarism adalah tindakan yang tak bisa diterima.

Beda lagi The American Political Science Association (APSA) yang hanya memasukkan masalah plagiat dalam kode etiknya, yang didefinisikan: “Dengan sengaja mengambil hasil karya orang lain sebagai karya miliknya”, namun tak menyinggung masalah auto-plagiat. Pada A Guide to Professional Ethics in Political Science (2008) yang diterbitkan APSA malah diatur masalah pengulangan publikasi ilmiah. Misalnya, dinyatakan bahwa tesis bila dipublikasikan sebagian atau keseluruhan oleh penulisnya, yang bersangkutan tak punya kewajiban etik memberitahukan. Pun penulis dibolehkan mengirim suatu naskah kepada lebih dari satu jurnal profesional, namun wajib memberitahukannya kepada editor.

Pamela Samuelson, profesor ilmu hukum dan informasi Universitas California, Berkeley, menyebut beberapa alasan kapan pengulangan publikasi suatu karya ilmiah dibolehkan. Dalam tulisannya Self-Plagiarism or fair use? ia mengemukakan, pengulangan publikasi ilmiah terdahulu boleh dilakukan apabila: karya ilmiah itu perlu dikemukakan lagi sebagai landasan karya ilmiah berikutnya; bagian dari karya ilmiah terdahulu itu terkait bukti dan alasan baru pada karya berikutnya; sasaran yang dituju publikasi karya ilmiah itu beragam karena sifatnya yang multidisiplin, sehingga publikasi di media yang berbeda diperlukan untuk menjangkau komunitas multidisiplin.

Ada pendapat, auto-plagiat terjadi bila dalam pengulangan karya tak disertai catatan rujukan memadai atas karya terdahulu. Lalu, muncul pertanyaan, haruskah penulis membuat catatan rujukan atas karyanya sendiri? Sebab, secara logika, semua batang tubuh teks suatu karya ilmiah yang tak merujuk karya orang lain, secara implisit bersumber dari yang bersangkutan. Jadi, tak perlu dibuat catatan rujukan. Pendapat lain, auto-plagiat itu pelanggaran ringan, tak perlu diatur.

Akan tetapi, ada praktik pemakaian kembali karya sendiri yang bisa dikategorikan pelanggaran etika akademik serius, karena ada unsur curang. Misalnya, pengulangan karya yang hak ciptanya sudah milik pihak lain, mahasiswa yang menggunakan karya ilmiahnya untuk memenuhi tugas pada lebih dari satu mata kuliah, atau pemakaian ulang karya ilmiahnya untuk tugas akhir yang mensyaratkan orisinalitas (skripsi, tesis, atau disertasi).

Bagi dosen, bila menggunakan karya ilmiahnya (lagi) untuk usulan kenaikan pangkat, padahal karya itu telah digunakan untuk maksud sama.

Namun, memang, kalau semua pengulangan karya dianggap pelanggaran, betapapun ringan pelanggaran itu, mungkin bisa menghambat tugas dosen atau ilmuwan. Padahal, menurut UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 12 Ayat (2), tugas dosen sebagai ilmuwan tak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi, tapi harus menyebarluaskannya.

Mengingat pemakaian istilah auto-plagiat bermakna negatif sudah umum, sementara penggunaan dan batasan istilahnya masih kontroversial, perlu kiranya pedoman soal itu. Mungkin bisa lewat revisi Permendiknas No 17/2010 sehingga para penilai sejawat punya acuan pasti ketika menilai karya ilmiah sejawatnya. Jadi, tak bias penilaian.

Muhadjir Effendy

Dosen Universitas Negeri Malang; Rektor Universitas Muhammadiyah Malang

(Kompas cetak, 9 April 2013)

 

Categories: JURNAL PREDATOR

Jurnal Predator!

Terry Mart

Belakangan ini, saya sering ditanya tentang jurnal predator. Rupanya orang mulai meresahkannya.

Istilah jurnal predator pertama kali diajukan Jeffrey Beall, pustakawan yang bekerja di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Puluhan penerbit dan ribuan jurnal ia kategorikan sebagai predator. Jurnal predator diterbitkan oleh penerbit predator dengan tujuan utama bisnis, menghasilkan uang bagi si pembuat jurnal. Biaya pemuatan per makalah ratusan hingga ribuan dollar AS. Tidak murah!

Jeffrey Beall saat ini rutin meneliti jurnal predator yang baru muncul dan bersifat open-access, yaitu jurnal yang hanya tersedia secara online, tidak ada versi cetak. Kalaupun ada, hanya versi cetak lepas (reprint) yang tentu saja sangat mudah dicetak dengan printer masa kini.

Skandal Ilmiah

Tidak sulit memulai bisnis ini asalkan bisa membangun situs yang menarik dengan embel-embel foto orang-orang berjas putih, memakai masker putih, seolah-olah sedang meneliti atau berdiskusi. Lebih meyakinkan lagi jika situs tadi ditempeli gambar rantai DNA agar terlihat lebih ilmiah. Ironisnya, bahkan untuk jurnal sosial pun, rantai DNA tetap dipajang.

Dengan menggunakan peranti lunak Open Journal System yang mudah dipasang dan gratis karena bersifat open source, remaja yang terlatih menggunakan teknologi informasi bisa mengendalikan aliran makalah yang masuk, proses penjurian (review), hingga penerbitan makalah secara profesional. Seperti kata Beall, prinsip pendirian jurnal predator adalah membuat situs, mengirim e-mail spam ke para ilmuwan, dan setelah itu tinggal berleha-leha menunggu konsumen datang.

Mungkin masalah terberat jurnal predator adalah mencari penulis makalah, juri (reviewer), dan dewan editor. Meski demikian, pendiri jurnal predator tidak kehabisan akal. Mereka mengirimkan e-mail spam ke ilmuwan-ilmuwan untuk mengisi.

Di negara berkembang, hal ini seperti gayung bersambut karena ilmuwan negara berkembang sangat membutuhkan aktualisasi diri melalui jurnal-jurnal dengan “cap internasional“. Semua itu untuk meraih hibah penelitian atau jabatan yang lebih tinggi meski harus membayar mahal. Jadilah “simbiosis yang saling menguntungkan”.

Sebenarnya tidak ada masalah jika makalah yang masuk benar-benar diperiksa juri yang mumpuni, sebidang, dan menggunakan standar ilmiah internasional. Kenyataannya, hampir semua jurnal ini menjamin makalah pasti diterima asal membayar. Di sini skandal ilmiah itu dimulai.

Contoh paling jelas adalah makalah hasil copy-paste di bidang pertanian yang mengatasnamakan penyanyi Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis makalah di sebuah jurnal predator di Afrika tahun lalu. Tentu saja, kejadian ini sangat memalukan bagi jurnal tersebut karena jelas sekali makalah tidak diperiksa oleh juri ahli sebelum diterbitkan. Saat ini, makalah itu sudah dicabut oleh pemilik jurnal, tetapi Jeffrey Beall masih menyimpan salinan makalah tersebut di lamannya.

Alamat palsu

Hasil penelitian Beall memperlihatkan, hampir semua jurnal predator dikendalikan dari India, Pakistan, serta negara-negara di Afrika meski di situsnya ada alamat surat di Amerika, Kanada, atau Eropa untuk mengelabui konsumen.

Pada umumnya, jurnal predator bisa ditengarai dari sulitnya menemukan alamat darat jurnal. Editor jurnal hanya dapat dihubungi melalui e-mail atau situs internet. Beberapa alamat yang dipajang, bila diperiksa dengan fasilitas Google Earth, hasilnya akan menunjuk ke alamat apartemen murah, apotek, atau tempat-tempat yang mustahil berbau ilmiah. Pemilik jurnal biasanya menyewa alamat kotak surat di Amerika atau Kanada.

Banyak juga jurnal predator yang judulnya dimulai dengan “American Journal of” atau “Canadian Journal of” semata-mata untuk menunjukkan bahwa jurnal ini merupakan produk Amerika atau Kanada.

Begitu pesatnya perkembangan jurnal predator membuat penerbit ataupun jurnal mulai kehabisan nama. Muncul nama-nama penerbit atau jurnal yang mirip atau malah sama. Bahkan, nama-nama tidak lazim mulai bermunculan, misalnya ada jurnal yang namanya “sampah“.

Jadi rumit

Masalah jurnal predator ini menjadi rumit karena kontribusi para ilmuwan (terutama dari negara berkembang) yang secara langsung turut membesarkan jurnal. Di lamannya, Beall mengajak para ilmuwan dan akademisi untuk menjauhi jurnal ini dengan cara tidak berkontribusi sebagai penulis makalah, juri, atau reviewer, serta editor jurnal.

Akibat kontribusi para ilmuwan, beberapa jurnal memiliki faktor dampak (impact factor/IF) meski IF tertinggi hanya 0,5. Sejumlah jurnal predator juga sudah diindeks oleh Scopus. Sebagai catatan, IF dipercaya banyak ilmuwan untuk menggambarkan kualitas jurnal, sedangkan indeks Scopus dalam skala nasional kita dianggap sebagai stempel jurnal internasional.

Bagi jurnal-jurnal ilmiah nasional yang sudah diakui keilmiahannya melalui akreditasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, keberadaan jurnal predator jelas sangat merugikan. Makalah-makalah ilmiah yang potensial untuk diterbitkan jurnal nasional terserap oleh jurnal predator gara-gara ada embel-embel internasionalnya. Padahal, dalam banyak hal, jurnal nasional kita jauh lebih baik dibandingkan jurnal predator.

Ada satu kasus lagi yang direkam laman Beall. Seorang ilmuwan terpaksa harus menarik kembali makalahnya dari sebuah jurnal predator karena makalah tersebut terpublikasi juga di jurnal yang jauh lebih bergengsi. Namun, jurnal predator mengharuskan si penulis makalah membayar “biaya penarikan“.

Sangat mencengangkan, betapa komersial jurnal tersebut. Untuk memasukkan harus membayar, dan untuk menarik makalah juga harus membayar. Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak biaya total yang dihabiskan ilmuwan negara berkembang untuk menarik makalah-makalah yang mereka tulis jika sekali waktu jurnal sejenis ini dimasukkan dalam daftar hitam pihak berwenang.

Permasalahan jurnal predator tidak akan begitu kronis jika para ilmuwan negara berkembang kembali menyadari hakikat makalah ilmiah (Kompas, 21 Februari 2012). Seberkas makalah ilmiah tidak lebih dari laporan hasil penelitian yang ditulis dalam format tertentu untuk dibaca para peneliti lain yang mengerti atau berkepentingan dengan hasil penelitian tersebut.

Jurnal Komunitas

Saat ini ada puluhan ribu jurnal ilmiah sehingga peneliti harus mencari jurnal yang visible bagi pembaca targetnya. Jurnal komunitas—mayoritas komunitas penelitian tertentu memublikasikan hasil penelitian mereka—merupakan jurnal yang paling tepat untuk tujuan ini.

Di bidang fisika, misalnya, ada jurnal yang diterbitkan American Physical Society atau European Physical Journal dan merupakan contoh jurnal-jurnal komunitas yang sangat baik.

Kita sangat yakin bahwa ilmuwan yang baik tidak memerlukan jurnal predator karena komunitas ilmiahnya sudah memiliki jurnal-jurnal standar komunitas yang visibilitasnya sangat tinggi di komunitas itu. Meski saya tidak menampik bahwa IF dapat menggambarkan kualitas jurnal secara kualitatif, jurnal komunitas akan lebih efektif menyampaikan informasi.

Jurnal predator bisa dikategorikan sebagai jurnal subhat (meragukan) sehingga sebaiknya kita hindari.

Terry Mart Pengajar Departemen Fisika FMIPA UI

(Kompas cetak, 2 April 2013)

Categories: JURNAL PREDATOR