PROFITABILITAS, INVESTASI DAN ARUS KAS SEBAGAI PREDIKTOR TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM

JAA Vol.3 No.2, Apr 2012 Profitabilitas,...Rowland Bismark Fernando Pasaribu

ABFI Institute Perbanas Jakarta

(rowland.pasaribu@gmail.com)

 

 

Abstract

This research aim to calculate influence from some financial performance (B/M ratio, market capitalization, earning position, investment, accrual value, company strength measurement, dividend policy, and profitability) to stock return. Multiregression model follow Fama and French procedure. Result of first hypothesis confirmed statistically, that the difference of stock of return pursuant to finance performance not automatically own significant influence in stock return prediction itself. Other result confirmed that all the predictor used has no significant influence to stock return both simultaneously and partial.

Keyword : Profitability, investment, cashflow, accrual value, stock return.

PENDAHULUAN

Teori valuasi mengatakan bahwa tingkat pengembalian saham yang diharapkan berhubungan dengan tiga variabel, yakni rasio book to market equity, profitabilitas yang diharapkan, dan investasi yang diharapkan. Dengan mengetahui rasio B/M dan profitabilitas yang diharapkan, suku bunga investasi yang tinggi akan menyebabkan rendahnya tingkat pengembalian saham yang diharapkan (Fama dan French, 2005).

Mengenai asosiasi tingkat pengembalian saham dengan rasio B/M perusahaan, cukup banyak bukti penelitian terdahulu yang mengkonfirmasi bahwa perusahaan dengan rasio B/M yang tinggi memiliki tingkat pengembalian saham yang lebih tinggi (Rosenberg, Reid, and Lanstein 1985, Chan, Hamao, and Lakonishok 1991, Fama and French 1992, Capaul, Rowley, and Sharpe 1993, Lakonishok, Shleifer, and Vishny 1994). Haugen dan Baker (1996) serta Cohen, Gompers, and Vuolteenaho (2002) menemukan bukti bahwa sebagai alat kontrol terhadap B/M ekuitas, rata-rata tingkat pengembalian berhubungan positif terhadap profitabilitas.

Di sisi lain, Fairfield, Whisenant, dan Yohn (2003), Richardson dan Sloan (2003), serta Titman, Wei, dan Xie (2005) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara rata-rata tingkat pengembalian dan investasi. Dimulai oleh Sloan (1996), terdapat banyak literatur yang menyatakan bahwa accrual berhubungan negatif terhadap profitabilitas mendatang, dan semakin tinggi prediksi akrual maka semakin rendah tingkat pengembalian saham (Xie, 2001; Fairfield, Whisenant, dan Yohn, 2003; Richardson, Sloan, Soliman, dan Tuna, 2004, 2005; serta Chan, Chan, Jegadeesh, dan Lakonishok; 2006).

Abarbanell and Bushee (1998), Frankel dan Lee (1998), Dechow, Hutton, dan Sloan (2000), serta Lee, Ng, dan Swaminathan (2004) mengkombinasikan hasil ramalan earning dengan asumsi perihal investasi mendatang guna mengestimasi tingkat pengembalian saham yang diharapkan. Hasil yang diperoleh adalah semakin tinggi arus kas bersih yang diharapkan (profitabilitas yang diharapkan dikurangi investasi yang diharapkan) terhadap ramalan nilai pasar saat ini maka semakin tinggi tingkat pengembalian saham. Jegadesh dan Titman (1993) bahkan menambahkan proksi Winner Minus Looser (WML) untuk menjelaskan tingkat pengembalian saham, hasil penelitiannya menunjukkan terdapat asosiasi antara tingkat pengembalian dan kinerja saham periode sebelumnya yang tidak terdeteksi oleh portofolio pasar, ukuran perusahaan, dan faktor distress-relative. Terakhir, Piotroski (2000), Griffin dan Lemmon (2002) menunjukkan bahwa komposisi pengukuran kekuatan perusahaan yang merupakan proksi untuk arus kas bersih yang diharapkan memiliki hubungan positif terhadap ekspektasi tingkat pengembalian saham.

Mengenai asosiasi akrual dan tingkat pengembalian saham, Sloan (1996) berpendapat bahwa investor tidak menyadari bahwa nilai rata-rata akrual berbalik arah lebih cepat dibanding komponen kas pada earning. Ia juga menyatakan bahwa investor cenderung memiliki preferensi estimasi yang berlebihan terhadap ekspektasi earning emiten yang memiliki nilai akrual earning yang tinggi saat ini dan menganggap remeh pada emiten dengan nilai ekspektasi akrual earning yang rendah. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa tingkat pengembalian saham mendatang yang rendah untuk perusahaan dengan akrual yang tinggi dan tingkat pengembalian saham yang tinggi untuk perusahaan dengan akrual yang rendah, pada saat tingkat pembalikan rata-rata pada akrual yang lebih cepat terjadi pada earning mendatang. Sebahagian besar penelitian empiris terdahulu menyetujui hasil penelitian Sloan untuk nilai akrual dan tingkat pengembalian saham. Meski rata-rata pembalikan akrual lebih cepat dibanding bagian kas pada earning, perbedaan yang terjadi tidak terlihat cukup signifikan untuk menjelaskan semakin tingginya rata-rata tingkat pengembalian saham yang dikonfirmasi untuk strategi portfolio untuk membeli saham perusahaan yang akrualnya rendah dan menjual saham perusahaan yang akrualnya tinggi.

Fama dan French (2005) menggabungkan seluruh prediktor pada penelitian terdahulu sebagai proksi penjelas tingkat pengembalian saham yang diharapkan ke dalam beberapa model multivariat. Hasil penelitian tersebut kembali mengkonfirmasi arah hubungan prediktor terhadap tingkat pengembalian saham yang diharapkan.

Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini berusaha mengimplementasikan multivariate model dalam penelitian Fama dan French (2005) mengenai implikasi persamaan valuasi untuk tingkat pengembalian saham yang diharapkan secara cross-section di bursa efek indonesia.

Download disini:

JAA Vol.3 No.2, Apr 2012 Profitabilitas, Investasi & Arus Kas Sbg Predictor Stock Return

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: