Namoura Arabika Sidikalang Bubuk

September 20, 2020 Leave a comment

Mengenal beragam jenis kopi yang sudah mendapat predikat sebagai kopi terbaik tentu tak lepas dari jenis kopi satu ini, kopi Sidikalang. Jenis kopi satu ini ternyata tidak kalah populer dengan jenis kopi yang lain seperti kopi Luwak. Sama sama berasal dari Indonesia, kopi Sidikalang ternyata juga mendapat pengakuan dari banyak pencinta kopi tidak hanya di Indonesia tapi  juga di negara negara lain seperti negara Amerika Serikat. Pertanyaannya, lalu apa yang menjadikan kopi Sidikalang ini begitu spesial?

Kopi Sidikalang ini juga sangat terkenal akan cita rasanya yang unik dan lezat. Kopi Sidikalang berasal dari Sumatera, tepatnya di sebuah ibukota kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Selain mendapat pengakuan dari para penikmat kopi di negeri sendiri, negeri Indonesia, kopi Sidikalang ternyata mampu bersaing dengan jenis kopi lain termasuk kopi Brazil. Hal ini tentunya bukan sesuatu yang mengejutkan karena kopi Sidikalang memiliki cita rasa khas yang tidak dimiliki oleh jenis kopi lain. Di tempat asalnya sendiri, pulau Sumatera, boleh dibilang kopi Sidikalang adalah rajanya kopi.

Namoura Coffee dengan bangga menghadirkan ikon kopi sumatera ini untuk kalian para penikmat kopi berkualitas, Arabika Sidikalang Bubuk yang memiliki kadar kafein lebih tinggi dibanding jenis kopi lain pada umumnya, aroma khasnya adalah manis karamel yang berpadu dengan sedikit rasa rempah. Kemudian, after taste khasnya adalah perpaduan antara citrus, dark chocolate dan fruity yang cukup segar. Ikon kopi Sumatera ini kami hadirkan dalam bentuk tiga kemasan, yakni: 250 gram, 500 gram, dan 1 Kg.

Namoura Gayo Arabics

December 5, 2019 Leave a comment

78218288_3545727742165472_7165237409557250048_n

Coffee from Takengon, Center of Aceh or commonly called Aceh Gayo coffee is already famous in the world. As the name implies, this coffee is managed by the Gayo people who are original Aceh residents. This type of coffee is one of the most widely consumed coffees as well as exported abroad. Premium product quality, with professional quality control, Quality control by machine and manual sorting process (Double Picked).

Specifications:

  • Single Origin Aceh Gayo Arabica Coffee with Grade 1 quality
  • Processing Method: Semi-washed
  • Altitude: +/- 1,400m
  • 11-13% Moisture; Defect 0-3%
  • Quality guaranteed
  • Suitable for roasters and also coffee connoisseurs who like to roast by themselves

Come join us here with our Namoura Gayo Arabics.

The Secret Behind the Success of the “New-wave” Specialty Coffee Places in Budapest

October 1, 2020 Leave a comment

As I experience, that a general knowledge-gap exists about the Third, “New” wave of coffee, the Specialty, and since I find it highly important to realize its role in the catering industry (especially in the fine dining), I would like to briefly summarize, and explain all the aspects of it in my dissertation. Firstly I am going to detail what do we mean under the phrase Specialty Coffee, how did coffee industry get to this stage through the decades, and what exactly the third wave represents in the coffee industry.

Then I would like to detail every step from beans to brewing and from brewing to consuming, highlight the crucial importance of every stage in this long process from the origin of beans to the quality cup of coffee drink. Further I am going to briefly introduce how the Third-wave of coffee initiated to Hungary (Budapest), and prepare a competitor analysis of the big franchise chains existing. Last, but not least I would also like to detail the profiles and marketing activity of the most popular, best-rated and some of the newly opened Specialty coffee places in Budapest, with which I am trying to find answers for my research question: ‘What is the secret behind the success of their business?’. I am going to examine these places also from the customer side, why people prefer these “special” “quality” “new-wave” places and in what aspects can these coffee shops offer more than their forgoers. With my dissertation, I would like to help in the better understanding of this successful and hyped subculture of the coffee industry.

The conclusions resulted: the secret of the success in case of these businesses is, that they are offering quality products from fair trade, highly controlled small independent farms, using light-roasting technology – by which the coffee beans original taste marks can dominate – , controlling every step of also the brewing by employing highly trained baristas with professional knowledge and skills, they are using only the best quality from the coffee machines, grinders, equipment, and providing a unique home-like, cozy atmosphere, by which people likely to become regulars.

Download

Industri Kopi Dipanggang Perubahan Iklim

October 1, 2020 Leave a comment

Musim gugur selalu merupakan saat yang tepat untuk menciptakan kebiasaan baru, dan jaringan kopi tahu itu. Hari-hari ini, mereka mati-matian berusaha menemukan dalih apa saja agar Anda minum java mereka.

Banyak jaringan menggunakan Hari Kopi Nasional atau Internasional, sebagai alasan untuk menawarkan kopi mereka dengan harga diskon, atau malah gratis—ketentuan dan syarat berlaku, tentu saja.

Bagi pemilik restoran, tidak ada pancingan yang lebih baik daripada kopi agar pelanggan datang lagi. Trik bagus yang tampaknya manjur bagi sementara orang. Mengingat apa yang mengintai di cakrawala, bagaimanapun juga, menawarkan kopi gratis mungkin bukan lagi opsi bagi bisnis.

Permintaan kopi di seluruh dunia sedang bergeser. Eropa masih menyerap hampir sepertiga kopi yang dikonsumsi di seluruh dunia, tetapi Cina melipatgandakan konsumsinya hanya dalam lima tahun terakhir.

Sedangkan Kanada, angkanya tetap besar karena lebih dari 90 persen orang dewasa Kanada minum kopi. Beberapa studi mutakhir menunjukkan kopi sebagai pilihan yang sehat, mungkin itulah salah satu faktor meningkatnya jumlah peminum kopi.

Apa pun, permintaan sangat besar di kebanyakan negara Barat, dan itu memberi tekanan semakin berat bagi negara-negara produsen kopi. Namun, ketika perubahan iklim mengintai, ada ancaman nyata bagi kisah sukses global kopi.

Kopi Ditanam Di Lebih Dari 60 Negara

Kopi adalah komoditas yang paling banyak diperdagangkan di dunia setelah minyak.

Biji kopi ditanam di lebih dari 60 negara dan menyediakan mata pencaharian bagi 25 juta keluarga di seluruh dunia. Produsen kopi terbesar sejauh ini adalah Brasil, disusul Vietnam dan Kolombia.

Secara global, 2017 bisa menjadi tahun rekor, ketika kemungkinan besar dunia akan memproduksi lebih dari 153 juta karung goni 60 kilogram kopi. Harga berjangka kopi turun karena itu, tetapi kita masih belum melihat sama sekali sebuah panen raya.

Produksi sedikit bergeser selama beberapa tahun terakhir. Dengan curah hujan yang bagus di Brasil dan pola cuaca yang menguntungkan di daerah-daerah lain di dunia, sejauh ini alam bermurah hati kepada pembudi daya kopi, tetapi keberuntungan mereka mungkin akan habis.

Walaupun bukan kebutuhan pokok pangan, kopi adalah bisnis besar. Di tingkat petani, kopi bernilai lebih dari AS$100 miliar. Di sektor ritel, industri kopi bernilai AS$10 miliar.

Tetapi terdapat konsensus yang semakin meluas di kalangan ahli bahwa perubahan iklim akan berpengaruh sangat buruk pada produksi selama 80 tahun ke depan. Pada tahun 2100, lebih dari 50 persen lahan yang dimanfaatkan untuk menanam kopi sudah tidak bisa ditanami lagi.

Ethiopia Bisa Terkena Dampak Serius

Sebuah kombinasi berbagai efek, karena suhu lebih tinggi dan pergeseran pola hujan, akan membuat tanah di mana kopi saat ini ditanam menjadi tidak cocok untuk produksinya.

Menurut National Academy of Science, di Amerika Latin saja, lebih dari 90 persen lahan yang digunakan untuk produksi bisa mengalami nasib ini. Diperkirakan bahwa Ethiopia, produsen terbesar keenam di dunia, bisa kehilangan lebih dari 60 persen produksinya pada tahun 2050. Dan itu hanya satu generasi dari sekarang.

Ketika kondisi iklim menjadi kritis, penghidupan jutaan petani dipertaruhkan dan kapasitas produksi terancam bahaya. Kontributor potensial lain dari kejatuhan yang diprediksi ini adalah hama dan penyakit.

Seiring perubahan iklim, penanganan hama dan kontrol penyakit menjadi masalah serius bagi para petani yang tidak sanggup melindungi tanaman mereka. Lebih dari 80% pembudi daya kopi adalah petani gurem.

Hama dan penyakit akan berpindah ke daerah-daerah dengan suhu yang cocok demi kelangsungan hidup, dan sebagian besar petani tidak akan siap. Banyak yang akan memilih banting setir menanam hasil bumi lain yang tidak begitu rentan terhadap perubahan iklim. Yang lainnya lagi mungkin berusaha meningkatkan produksi kopi mereka, tetapi dengan kualitas yang jelas rusak.

Kualitas Kopi akan Merana

Suhu yang lebih tinggi akan mempengaruhi kualitas kopi. Kopi bermutu tinggi ditanam di daerah-daerah tertentu di dunia dengan iklim yang memungkinkan biji kopi masak pada saat yang tepat. Kopi Arabika, misalnya, yang menguasai 75 persen produksi kopi dunia, akan menjadi produk di bawah rata-rata jika suhu naik beberapa derajat lagi.

Tak pelak ini akan mempengaruhi harga dan kualitas kopi bagi kita semua. Berkat apa yang disebut Efek Starbucks, kualitas kopi yang kini kita nikmati jauh lebih unggul dari kualitas satu dekade silam. Biji-biji kopi bagus mungkin menjadi lebih sulit diproduksi di masa mendatang.

Saat ini, harga berjangka kopi senilai AS$1,28 per pon dan menghadapi tekanan turun. Jika situasinya terus begini, harga tercatat AS$3,39 per pon, yang ditetapkan pada tahun 1977, bisa kembali lagi hanya dalam beberapa tahun.

Perang kopi yang sedang kita saksikan bukan cuma soal mendapatkan pangsa pasar dan memancing konsumen dengan secangkir kopi. Perang itu juga soal bagaimana kita terkait dengan satu hasil bumi yang sedang dikepung perubahan iklim.

Tidak cukup gencar memerangi perubahan iklim, boleh jadi kita dipaksa mengubah hubungan kita dengan kopi. Ketika negara-negara produsen kopi saat ini berusaha mengembangkan metode-metode ramah lingkungan dan menerapkan praktik-praktik berkelanjutan, Kanada bisa menjadi negara berikutnya di mana kopi benar-benar ditanam, bukan cuma dipanggang.

Pada dekade mendatang, dengan perubahan iklim dan teknologi-teknologi baru, mungkin memproduksi biji kopi akan lebih masuk akal dilakukan di Kanada. Lagi pula, jika Elon Musk beranggapan kita bisa mulai mengolonisasi Mars pada tahun 2022, mengapa kita tidak bisa menanam kopi di Kanada?

Jadi, apabila sebuah jaringan kopi menawarkan kopi gratis, terima saja. Tak lama lagi kopi bisa menjadi barang mewah.

Sylvain Charlebois

Sumber:

Akibat Perubahan Iklim Di Sumatera: Cherry Kopi Yang Tak Berisi

October 1, 2020 Leave a comment

Dampak pemanasan iklim akhirnya menyentuh dataran Sumatera dan memberikan dampak cukup signifikan terhadap pohon kopi di sana.

BEBERAPA tahun lalu, Brazil beserta sebagian negara di Amerika Latin dan Afrika yang merupakan daerah-daerah penting penanaman kopi sempat mengalami kerugian cukup besar mulai dari proses tanam hingga pemanenannya. Di beberapa laporan, Brazil dan Ethiopia bahkan termasuk yang paling parah dari semuanya karena kerugian mereka nyaris mendekati 80% dari total penghasilan tahunan umumnya.

Pemanasan global dan perubahan iklim yang semakin menjadi-jadi membuat pohon kopi yang mereka tanam menjadi lebih rentan terhadap hama, proses pematangan buah, atau cherry kopi juga menjadi tidak maksimal sehingga berpengaruh pula terhadap hasil panen.

Dan kasus yang mirip terjadi pula kepada para petani kopi yang berada di dataran tinggi Gayo, Sumatera. Pada November lalu, beberapa anggota dari Coop Coffees mengadakan perjalanan ke berbagai perkebunan kopi di wilayah Gayo, Aceh. Perjalanan mereka memberikan hasil bahwa kopi-kopi Gayo yang dipanen di sekitar wilayah itu ternyata mengalami kerusakan cukup serius akibat kurangnya curah hujan selama kurun Januari sampai September 2016, tahun ini.

Curah hujan yang sedikit, kekeringan yang berkepanjangan, ditambah suhu udara yang meningkat sedikit lebih tinggi membuat cherry kopi menjadi sangat lambat matangnya. Hasilnya, terdapat cukup banyak cherry yang kosong pada pohon-pohon kopi.

Sementara ketika ketika musim hujan akhirnya tiba pada akhir September lalu, hal ini justru bertepatan dengan fase dimana kopi-kopi sedang dalam proses penjemuran dan pengeringan. Di tahap ini, para petani justru sedang membutuhkan sinar matahari selama berhari-hari untuk menjamin kualitas kopi mereka tetap stabil.

Namun, ketidakstabilan iklim ini pada akhirnya membuat keberlangsungan hidup para petani kopi di Sumatera menjadi tidak bisa diprediksi dari sebelumnya.

Para petani kopi yang tergabung dalam Komunitas Tanjung Sari yang berada di bawah naungan Koperasi Permata Gayo (rata-rata perkebunan mereka berada di ketinggian sekitar 1,100 meter di atas permukaan laut) menemukan bahwa 45% cherry kopi yang mereka panen tahun ini tidak mengandung biji kopi. Cherry kopi yang “kosong” itu tentu saja membuat harga jualnya menjadi menurun drastis dan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan pada saat pemanenan, termasuk untuk proses pengolahannya. Karenanya Koperasi Permata Gayo memutuskan agar mereka—para petani—tidak menjual cherry kopi yang mereka panen.

Situasi ini hampir sama terjadi di seluruh perkebunan kopi yang ketinggiannya di bawah 1,200 meter di atas permukaan laut, antara lain di daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Sementara itu, pedesaan Ujung Gele yang berada sekitar 10 km dari wilayah sebelumnya sedikit lebih beruntung. Kebanyakan perkebunan yang ada di daerah ini berada di ketinggian sekitar 1,300 meter di atas permukaan laut, letaknya juga lebih dekat dengan gunung berapi Gereudong. Kondisi ini membuat suhu udara di sekitarnya masih tetap lebih dingin, tanah vulkanis juga membuatnya masih lebih subur untuk pertumbuhan pohon kopi. Tapi tetap saja, daerah ini tidak lepas dari masalah perubahan iklim.

Kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini membuat proses panen di daerah ini menjadi terlambat satu bulan, dimulai dari akhir Oktober. Para petani di daerah ini juga menjadi tidak yakin kalau mereka akan mencapai puncak panen di bulan Desember seperti yang seharusnya. Alasannya karena tanaman kopi di daerah ini menjadi berkembang lebih lama, dengan perkiraan kualitas yang menurun mulai dari sekarang sampai Januari tahun depan.

Kondisi pulau Sumatera yang dekat dengan garis Khatulistiwa, ditambah musim hujan yang umumnya terjadi mulai dari akhir September membuat Dataran Tinggi Gayo juga mengalami masa panen dua kali setahun. Panen kedua ini biasanya terjadi selama bulan Maret sampai bulan Juni.

Untuk itu para petani di wilayah Gayo sangat berharap jika pada panen kedua nanti mereka bisa mendapatkan hasil (cherry kopi) yang lebih besar dibandingkan sebelumnya untuk menutupi kerugian ‘panen pertama’ yang mereka dapat tahun ini. Semoga saja.

Disadur dari dailycoffeenews(dot)com. Foto diambil dari coffeebeansdelivered(dot)com(dot)au dan situs pencari.


Sumber:

Biologi Kopi Sebagai Minuman Terpopuler Di Dunia

October 1, 2020 Leave a comment

Anda membaca artikel ini sambil menikmati secangkir kopi di tangan Anda, bukan? Kopi adalah minuman paling populer di banyak tempat di dunia. Orang-orang Amerika mengkonsumsi lebih banyak kopi dibandingkan total gabungan konsumsi soda, jus, dan teh.

Seberapa populerkah kopi itu? Ketika pertama kali berita mengenai Pangeran Harry dan Meghan mempertimbangkan Kanada sebagai rumah baru mereka, raksasa kopi Kanada Tim Hortons menawarkan kopi gratis seumur hidup kepada mereka sebagai bentuk bujukan tambahan.

Dengan popularitasnya kopi, sangat mengejutkan betapa banyaknya kebingungan sekitar mengenai minuman hitam pekat ini dalam mempengaruhi biologi kita.

Bahan Kopi

Bahan aktif biologis yang utama dalam kopi adalah kafein (stimulan) dan serangkaian antioksidan. Apa saja yang kita ketahui mengenai bagaimana kafein dan antioksidan mempengaruhi tubuh kita? Dasarnyna cukup sederhana, tapi bagian membingungkan yang cukup ramai beredar ada dalam rincian dan spekulasi tentang bagaimana kopi dapat membantu atau malah membahayakan tubuh kita.

Sifat stimulan kafein membuat Anda dapat mengandalkan secangkir kopi untuk membangunkan Anda. Faktanya, kopi atau setidaknya kafein yang dikandungnya, adalah obat-obatan psikoaktif yang paling umum digunakan di dunia. Obat psikoaktif adalah obat yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Kafein sebagai stimulan tampaknya bekerja dengan menahan atau memblokir adenosin, yang mendorong rasa tidur, bekerja.

Kafein dan adenosin memiliki struktur cincin yang mirip. Kafein bertindak sebagai peniru molekul yang mengisi dan memblokir kerja adenosin sehingga dapat mencegah kemampuan alami tubuh untuk dapat beristirahat ketika lelah.

Pemblokiran ini juga menjadi alasan mengapa mengkonsumsi kopi terlalu banyak dapat membuat Anda merasa gelisah atau sulit tidur. Anda hanya dapat menunda kelelahan hingga waktu tertentu sebelum sistem regulasi tubuh Anda mulai gagal dan mengarah ke hal-hal sederhana seperti gelisah atau gugup, bahkan dapat memberikan dampak yang lebih serius seperti kecemasan atau insomnia. Komplikasi mungkin biasa terjadi, mengingat hubungan antara mengkonsumsi kopi dan insomnia telah teridentifikasi lebih dari 100 tahun yang lalu.

Respons-Respons Yang Unik

Orang-orang merespons kafein dengan cara yang berbeda-beda. Setidaknya beberapa variasi kafein memiliki bentuk-bentuk berbeda dari reseptor adenosin, molekul yang mengikat kafein dan membloknya. Ada kemungkinan juga terdapat tempat variasi genetik lainnya.

Ada pula orang-orang yang tidak memproses kafein dan membuat mereka lebih rentan terkena bahaya medis. Kendati demikian, terlepas dari cara ekstrem itu, ada variasi bagaimana kita merespons secangkir kopi tersebut. Dan, seperti banyak di bidang biologi, variasi bisa berupa datang dari lingkungan, konsumsi kopi terdahulu, genetika, dan sejujurnya, peluang acak.

Kita mungkin tertarik pada kopi karena desas-desus seputaran kafein yang menggembirakan, tapi itu bukan berarti kafein menjadi aspek paling menarik secara biologis dari secangkir kopi yang baik.

Dalam satu penelitian yang menggunakan tikus, kafein memicu kontraksi otot polos sehingga memungkinkan kafein secara langsung meningkatkan aktivitas usus. Meski begitu, studi lainnya menunjukkan bahwa kopi tanpa kafein dapat menimbulkan efek yang kuat pada aktivitas usus sebagaimana pada kopi biasa, ini menunjukkan adanya mekanisme lebih kompleks yang melibatkan beberapa molekul lainnya dalam kopi.

Manfaat Antioksidan

Bagaimana dengan antioksidan dalam kopi dan rumor mengenainya? Hal-hal seperti ini sebenarnya dimulai dengan sangat mudah. Proses metabolisme menghasilkan energi yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup, tapi proses ini juga menghasilkan bahan yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, seringkali dalam bentuk molekul teroksidasi yang dapat berbahaya bagi tubuh manusia atau bahkan dapat merusak molekul lain.

Antioksidan adalah kelompok molekul luas yang dapat membuang bahan-bahan tak berguna yang berbahaya dan sebagian organisme menghasilkan antioksidan sebagai bagian dari keseimbangan merabolisme mereka. Masih tidak jelas apakah dengan melengkapi diet kita dengan antioksidan tradisional dapat menambah pertahanan alami ini, tapi hal tersebut tidak menghentikan spekulasi yang ada.

Antioksidan telah dikaitkan dengan hampir semua hal, termasuk ejakulasi dini.

Apakah ada klaim efek positif yang dapat dibuktikan? Mengejutkannya, jawabannya sekali lagi hanyalah mungkin.

Kopi dan Kanker

Kopi tidak akan menyembuhkan kanker, tapi minuman ini mungkin membantu mencegah kanker dan beberapa penyakit lainnya. Untuk menjawab pertanyaan mengenai hubungan antara kopi dan kanker kita perlu menanyakan pertanyaan lain: apa itu kanker? Paling sederhananya, kanker merupakan pertumbuhan sel yang tidak terkendali, yang pada dasarnya berkaitan dengan pengaturan kapan gen bekerja aktif atau kapan ia tidak bekerja.

Kelompok penelitian kami mempelajari pengaturan gen dan saya dapat memberitahu Anda bahwa, sekalipun hanya secangkir kopi atau peningkatan kafein di tubuh, tidak akan menyebabkan gen yang mula-mulanya aktif atau tidak aktif kemudian bekerja secara tiba-tiba dan mempengaruhi tubuh.

Antioksidan dalam kopi sebenarnya memiliki efek melawan kanker. Ingat kembali bahwa antioksidan melawan kerusakan sel. Salah satu jenis kerusakan yang dapat mereka bantu kurangi ialah mutasi pada DNA dan kanker yang disebabkan oleh mutasi yang berujung pada kesalahan pengaturan gen.

Studi telah menunjukkan bahwa mengkonsumsi kopi melawan kanker pada tikus. Studi lainnya pada manusia telah menunjukkan bahwa konsumsi kopi dikaitkan dengan tingkat potensi yang lebih rendah dari beberapa jenis kanker.

Beberapa riset menunjukkan bahwa konsumsi kopi mengurangi beberapa penyakit pada tikus.

Menariknya, konsumsi kopi juga telah dikaitkan dengan penurunan tingkat penyakit lainnya. Konsumsi kopi yang lebih tinggi akan membuat semakin rendah seseorang terkena penyakit Parkinson dan beberapa jenis penyakit demensia. Mencoloknya, setidaknya ada satu studi eksperimen pada tikus dan kultur sel yang menunjukkan bahwa perlindungan mereka adalah fungsi kombinasi kafein dan antioksidan dalam kopi.

Konsumsi kopi yang tinggi juga dihubungkan dengan tingkat diabetes tipe 2 yang lebih rendah. Kompleksnya, efek gabungan dan variasi antarindividu tampaknya menjadi tema penting pada semua penyakit.

Pada akhirnya, apa yang tersisa dari biologi dalam kopi? Ya, sebagaimana apa yang saya sampaikan ke para mahasiswa saya, ini rumit. Tapi sesuai dengan apa yang telah kita ketahui semua, kopi sangat berguna untuk membangunkan Anda pada pagi hari.

Thomas Merritt, Rizki Nur Fitriansyah menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Sumber:

Kopi-Kopi Tradisional Asli Indonesia

October 1, 2020 Leave a comment

Tak hanya budayanya yang kaya, kopi tradisionalnya pun begitu beragam. Indonesia memang berbhinneka. Mulai dari manusia hingga ke kopinya. 

DIBERKATILAH kita yang tinggal di Indonesia dengan segala keragamannya yang menjadikannya istimewa. Ada banyak suku, agama, ras, budaya, makanan hingga kopi pun rupa-rupa jenisnya. Kopi tradisional Indonesia disajikan dengan banyak cara dan muncul lewat banyak nama. Bagi kamu yang ingin mengetahui kopi tradisional apa saja yang di Indonesia, yuk simak di bawah ini.

1. Kopi Tubruk

Hampir semua wilayah di Indonesia pasti sepakat bahwa kopi tubruk adalah kopi tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kesederhanannya memberi candu pada kita semua. Mulai dari zaman kakek nenek hingga ke generani kita, kopi tubruk senantiasa ada dan dinikmati tak kenal zaman.

2. Kopi Joss

Kopi asal DIY Yogyakarta ini sungguh tersohor karena dicampur dengan arang panas yang dinilai mampu mengikat racun. Kopi dengan karbon aktif ini bisa kamu nikmati di sekitar Stasiun Tugu Jogja. Ke Yogyakarta takkan lengkap jika tak pernah seruput kopi yang satu ini. Oh iya jangan lupa ditemani jajanan di lesehan ya.

3. Kopi Khop

Pernah dengan kopi yang disajikan dengan cangkir terbalik? Nah ini adalah Kopi Khop yang biasa ditemukan di Provinsi NAD dan sekitarnya. Menikmati kopi ini sungguh seru karena dari piringnya bukan cangkirnya.

4. Kopi Takar

Di Sumatera Utara tepatnya di Mandhailing Natal kamu bisa menikmati kopi yang disajikan dengan tempurung kelapa. Kopi hitam ini pun diberi kayu manis yang biasa dipakai untuk menyeruput kopi.

5. Kopi Talua

Di Sumatera Barat kamu bisa menikmati campuran kopi dan telur yang dikenal dengan Kopi Talua. Selain telur menu kopi ini juga dicampur kayu manis dan SKM lalu dikocok hingga mengental.

6. Kopi Rarobang

Ambon ternyata punya menu kopi yang khas. Kopi hitam dicampur dengan rempah seperti jahe, cengkeh, kayumanis, gula pasir, kenari dan sereh ini kerap dinikmati siapa saja yang ingin staminanya terjaga atau biasa diminum sebagai obat yang menyembuhkan.

Source:

The Coffee Paradox : Global Markets, Commodity Trade and the Elusive Promise of Development

September 30, 2020 Leave a comment

The global coffee chain is currently characterized by a paradoxical coexistence of a ‘coffee boom’ in consuming countries and a ‘coffee crisis’ in producing countries. This book shows that the ‘coffee paradox’ exists because the coffee farmers sell and the coffee consumers buy embed increasingly different ‘attributes’.

Can developing countries trade their way out of poverty? International trade has grown dramatically in the last two decades in the global economy, and trade is an important source of revenue in developing countries. Yet, many low-income countries have been producing and exporting tropical commodities for a long time. They are still poor. This book is a major analytical contribution to understanding commodity production and trade, as well as putting forward policy-relevant suggestions for ‘solving’ the commodity problem.

Through the study of the global value chain for coffee, the authors recast the ‘development problem’ for countries relying on commodity exports in entirely new ways. They do so by analysing the so-called coffee paradox – the coexistence of a ‘coffee boom’ in consuming countries and of a ‘coffee crisis’ in producing countries.

This book shows that the coffee paradox exists because what farmers sell and what consumers buy are becoming increasingly ‘different’ coffees. It is not material quality that contemporary coffee consumers pay for, but mostly symbolic quality and in-person services. As long as coffee farmers and their organizations do not control at least parts of this ‘immaterial’ production, they will keep receiving low prices. The Coffee Paradox outlines innovative ways of addressing this dilemma.

Download


PERKEMBANGAN & TANTANGAN PRODUK KOPI OLAHAN INDONESIA – ppt download

September 30, 2020 Leave a comment

Gambaran Umum Perkopian Indonesia

Penghasil devisa terbesar ketiga Subsektor Perkebunan setelah Kelapa Sawit dan Karet Komoditi kopi sumber utama pendapatan petani didominasi oleh perkebunan rakyat (96%), penciptaan lapangan kerja yang melibatkan petani secara langsung sebanyak 2,33 juta KK, terbentuknya pusat–pusat pertumbuhan, mendorong agribisnis dan agroindustri kopi.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keunikan daerah masing2 yang telah menghasilkan karakteristik kopi spesialti yang tidak dihasilkan oleh negara lain.

Namun tingkat produktivitasnya masih rendah sekitar 700 Kg/ha. Jika produktivitas bisa ditingkatkan menjadi 1 – 1,6 ton/ha, maka produksi kopi nasional bisa mencapai lebih dari 1,5 juta ton/tahun atau mencapai sekitar 25 juta bag. Konsumsi domestik masih rendah sekitar 0,9 Kg/Kapita

Source: PERKEMBANGAN & TANTANGAN PRODUK KOPI OLAHAN INDONESIA – ppt download

Categories: Result and Research

Kenapa Rempah-Rempah Baik Untuk Campuran Kopi?

September 30, 2020 Leave a comment

Beruntunglah kalian yang gemar menikmati kopi dengan aneka rempah-rempah karena kalian sudah menjalankan hidup sehat tanpa sengaja.

INDONESIA adalah negeri yang kaya akan beragam rempah-rempah. Tak heran jika di masa lampu para penjajah tergiur untuk menguasai kekayaan kita ini. Dan sudah diketahui secara umum juga bahwa rempah-rempah sangat baik dikonsumsi karena memberikan manfaat dan khasiat bagi tubuh kita. Rempah-rempah juga dinilai sebagai superfood yang wajib dikonsumsi untuk keseimbangan tubuh manusia.

Credit : 7-themes.com

Namun tahukah kamu bahwa mencampurkan rempah-rempah ke dalam kopi ternyata juga mampu mengeluarkan potensi khasiat pada kopi secara luar biasa? Kopi yang memang mengandung kafein dan beragam kandungan baik lainnya mampu mengurangi risiko penyakit jantung, alzeimer, kanker diabetes dan banyak lagi. Pun mampu membantu otak lebih fokus dan memberi energi baik untuk tubuh.

Mencampurkan rempah pada kopi menambah khasiat yang berkali lipat. Seperti kopi jahe yang menggunakan jahe diketahui mencengah peradangan, mengurangi kembung, mengatasi masalah pencernaan, Membantu proses detoksifikasi dan mencegah penyakit kulit.

Itu masih jahe saja. Rempah lain seperti kunyit yang kemudian popular dengan menu kopinya Turmeric Latte, memiliki manfaat menekan penyakit jantung dan diabetes, antiinflamasi, mencegah kanker dan masih banyak lagi. Kopi rempah ini sudah dikonsumsi dari turun temurun oleh masyarakat Arab, beberapa negara di Benua Afrika bahkan di Indonesia. Umumnya rempah yang digunakan beragam mulai dari kayu manis, cengkeh, kapulaga, bunga lawang dan masih banyak lagi.

Jadi jika kamu mengira bahwa rempah-rempah hanya sedap dijadikan bumbu masakan maka kamu salah besar. Coba sesekali campurkan rempah pada kopimu dan nikmati rasa dan manfaatnya!

Source:

The Rise of Merchant Empires

September 29, 2020 Leave a comment

The Rise of Merchant Empires: Long Distance Trade in the Early Modern World 1350-1750. Cambridge: Cambridge University Press, 1990

This book is a volume of essays on the rise of trade networks, more specifically on the significance of the emergence of a global trade in the early modern era. As clearly marked by the title, the period between 1350 and 1750 is examined. The volume attempts to discuss the relationships that marked the period, preceding an age of imperialism, between “Europeans and other peoples”.

The collection takes a primarily economic focus, detailing the circulation of various commodities — notably, bullion, slaves, luxury good as well as agricultural staples—around the world, and the two-way relationship between such circulations and larger global market patterns and circumstances. While political or social relationships between bodies such as governments and companies inevitably enter the discussion, the degree of attention they garner, and the angle from which they are approached, depends on the author. Phillips, for example, only examines the rivalries between the Iberians and other European conquerors only from a commercial angle, investing more time instead in more quantitative analyses of transatlantic trade. Wang, however, in his presentation of Hokkien overseas merchant communities, discusses their operations in close consultation of then government policies and the volatile political relationships between China, Japan, the Philippines, and competing European merchants.

The study of trade in this period involves, primarily, the examination of European sources. The book also considers the divided viewpoints of Karl Marx and Adam Smith on the merits of trade, in one sense, and the division between historians on the roots of contemporary plight of the third world on the other, thus addressing interactions and characterizes the institutions that emerged.

The collection is careful in determining the extent to which the proliferation of long-distance connections—a gradual historical process and not a radical development—affected trade in various regions, well aware that many other factors came into play. These essays are therefore useful for their measured, balanced examination of the interactions between Asian or African and European commercial agents, friendly or hostile.

Whilst the study has a second volume in The Political Economy of Merchant Empires, the book looks at trade by extensively illustrating, through statistical models (charts, graphs, and tables), complex economic trends such as the production and import of precious metals in Europe in an accessible way. Considering large trends such as world bullion flows and also considering the roles of merchant communities, the volume both situates its analysis in reviewing previous scholarship, whilst also offering new insights; hoping that the volume would spur more work in the study of trade between continents in the early modern period.

The book deals with the early modern period, more specifically 1350-1750; however these dates do not necessarily reflect the periodization of each chapter. The book sets out from the beginning that it does not contain a united perspective on the period, and deals with the topic by inviting “comparative judgments” by leading scholars. Beginning with Herman van der Wee, the book is a body of essays that describe the trading powers of the time, but also shows the reader how the existing literature about world bullion flows must be reviewed to understand global trade from a broader and better perspective. Further, by examining Asian entrepôts, in comparison to European merchant communities, allow us to understand events such as political turmoil in the seventeenth century, and their link to disruptions in global trade. Examining the relationships between trade, political structures (such as the indifference of the Ming emperors toward certain trading communities) and merchant communities, the book contributes by giving a specific analysis to different themes of global trade in the period covered, and brings incisive analysis which explains the changes in global trends.

Tracy does not impose a definition of “merchant empires” on the collection. In fact, the “merchant empires” in question are not limited to the far-reaching series of Portuguese ports and forts, or the land-based colonies of the Spanish. Rather, it seems they are considered “empires” as long as they feature extensive networks of trading relations which transgress the geographical borders of a single political entity—for instance, the sojourning Hokkien communities in Manila and Nagasaki, the atomized but sizeable population of Indian traders, and the caravan travelers along the Silk Road. Logically, these merchant communities do have ties to an “empire” in the more traditional sense—namely, the Mughal, Mongolian and Chinese empires—and through their interactions with other traders, extend their empires’ influences. For instance, Chinese and Middle Eastern caravan merchants on the Silk Road left lasting cultural impacts on each other’s high courts. Overseas merchant communities, or more broadly traveling traders, could thus be seen as not only commercial but also cultural extensions of their empires.

Apart from discussions centering on specific communities or geographical regions, some essays concentrate on “commodities”: there are chapters devoted to slavery or bullion, and to discussing the extent of their impacts on the world economy. The collection thus allows readers to gain a holistic understanding of global trade from various perspectives.

Dealing with such a vast amount of material and a broad topic in general, the volume offers accounts of trade in the early modern period, and their impact on the formation of a global world economy. With a selective range of existing sources on the period, an explanation for the trends would bring light to the available statistics. Opening room for debate about the relevance of regional cyclical movements, whilst also putting forward the existence of a preimperial global order where both Europeans and Asians traded and competed on equal terms, the book illuminates the past with plausible explanations for, and re-evaluation of, trends in the early modern period.

With a plethora of scholars working on the subject, the effort is an attempt at a new approach in the field. Steensgaard admits in his chapter that “we are not much closer to an understanding of the economic interrelations between the continents in the early modern period than we were twenty-five years ago”, giving value to the relevance of the study. With chapters dedicated to an array of topics such as costs of Dutch ship owning and the Atlantic slave trade, the volume aims to give a new, broad overview, united by the approach of consulting statistics in detail and a comprehensive knowledge of the existing work done in each area (allowing for it to give a good overview of past material and subsequently, present its own). Remarking that the “Indian ship had sailed into oblivion” by 1800, the volume looks at explaining both the rise and decline of merchant empires, providing a comprehensive and well referenced view of the past, giving light to a critically important period in global history.

The inclusion of essays on Asian merchant empires, rather than on European ones, allows for the examination of Asian traders in their own right. As Mauro points out, however, Asian commercial practices are not as well documented, if recorded at all, as European ones due to a lack of institutionalization—and in the case of the Chinese, of legality. Much of their analyses in fact depend on observations by European travelers. Mauro writes that there is much left to discover about Asian merchant empires, whereas discussion about European participation in world trade has received enough attention as to be somewhat saturated.

Almost all the authors are careful to qualify their arguments, warning that in many instances, the information required is either unavailable or subject to bias. Essays thus sometimes have to rely either on a limited sample size of data, or on a single author. Nonetheless, references to economic data from archives are frequent and liberal.

The essays all converge with regard to the historical treatment of Asian merchants vis-à-vis their European counterparts. The authors acknowledge that elaborate Asian and African trading networks and structures existed prior to European arrivals, and that such communities, while greatly influenced by the introduction of European agents, did not by any means subject themselves to European domination—in fact, they retained many advantages on home ground, and Europeans were often obliged to conduct trade on their terms. Furthermore, it is true that essays on Asian merchant communities agree that Asians tended to operate individually and not as part of a structured bureaucratic body similar to the trading companies of Europe, and that this perhaps prevented them from reaping the benefits of collective bargaining power. In fact, some of them ponder if most Asian merchants fell under the vaguely derogatory category of “peddlers”. However, they ultimately dispute the notion that these atomized agents of commerce were ignorant or insignificant in their contributions to regional or global trade. The collection therefore does not begin on the assumption that Asian merchants were in any way inferior to European ones. Indeed, Tracy emphasizes that the point of this collection is to view both groups on equal terms through lenses untinged by the arrogance of imperialism.

Download

Minum Kopi Memicu B.A.B?

September 29, 2020 Leave a comment

Beberapa peminum kopi mengaku mereka mendapat ‘panggilan alam’ setelah meneguk kopi. Kenapa?

Tak sedikit dari peminum kopi yang mengaku bahwa setelah minum kopi ada semacam ‘panggilan’ untuk segera melakukan BAB. Beberapa orang khawatir bahwa ini adalah pertanda buruk tentang kopi yang diminumnya atau reaksi buruk kopi terhadap tubuh mereka. Jangan khawatir karena hal tersebut ternyata sangat normal. Studi membuktikan bahwa 30% populasi peminum kopi memang mengalami hal ini. Meskipun reaksinya berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang hanya merasa sedikit mules, ada yang langsung ingin BAB dan ada juga yang hanya merasakan reaksi sedikit pada perutnya.

Untuk menjawab semua pertanyaan yang datang kepada saya yang kira-kira bunyinya “kenapa kalau habis minum kopi bawaannya mau ke toilet ya?” maka lahirlah artikel ini. Kini rasa penasaran akan jawabannya telah ditemukan oleh para ilmuan yang telah mengamati dan membuat studi invasif. Para ilmuan yang telah melakukan riset ini mengatakan bahwa kopi mampu merangsa usus distal mendorong kotoran keluar dari tubuh dengan lebih cepat. Ada kemungkinan bahwa asam (acidity) yang terkandung dalam kopi yang memengaruhinya.

Di dalam kopi ada senyawa yang bernama asam chlorogenic yang memicu naiknya kadar asam lambung serta memicu naiknya tingkat asam pada lambung manusia. Tidak, ini tidak berbahaya. Karena lambung memang bereaksi terhadap berbagai hal yang dikonsumsi manusia, termasuk kopi. Saat kamu mengonsumsi kopi maka lambung juga bereaksi. Setelah itu hormon yang membantu proses pencernaan juga berekasi dan mempercepat proses pencernaan dan pergerakannya ke usus. Itu kenapa untuk beberapa orang kopi menyebabkan mereka untuk melakukan BAB.

Selain penjelasan ilmiah itu. Dorongan buang air setelah minum kopi juga bisa dipengaruhi faktor kebiasaan dan daya tahan tubuh. Bisa jadi ini terjadi hanya pada peminum kopi pemula atau mereka yang memiliki sistem pencernaan yang berbeda. Apapun itu semua efek kopi adalah normal dan tidak membahayakan kesehatan.

washingtonpost.com